[Opini] Kita Indonesia

0
145

 

Ismail Suardi Wekke

(STAIN Sorong & Scientific Committee SEAAM)

Bapak/Ibu Warga Indonesia, di masa lalu saat Pak Harto berpidato sering melafalkan, Saudara Sebangsa dan Setanah air. Saya ingin menggunakan kata itu dalam beberapa bagian ketikan ini.

Indonesia adalah serpihan yang di masa lalu kita sebut Nusantara, Sriwijaya dan Mahapahit bagian dari keagungan itu. Bentang wilayahnya yang luas kemudian menjelma menjadi keagungan, pengaruh, dan kemasyhuran.

Setelah era perang dunia kedua, saat negara bangsa terbentuk, Indonesia juga melembaga. Walau kata Anderson, tak lebih dari imagine nation. Apapun itu, Indonesia menjadi pilihan kita.

Refleksi saya saat ini, tidak pada masa itu, tetapi masa depan kita semua.

Korea dan Amerika Serikat pernah mengalami perang saudara. Bahkan Korea masih terbelah menjadi Selatan dan Utara. Begitu pula Jerman yang pernah terbagi karena ideologi, dengan status Timur dan Barat.

Namun, hari ini. Indonesia kita hiruk pikuk.

Sejak Ahok hadir di tengah-tengah kita, sebahagian besar energi dan ruang sosial kita dipenuhi oleh Ahok. Bahkan sejak Ahok maju ke gelanggang pilgub untuk periode berikutnya, gonjang-ganjing itu semakin bertambah.

Tidak lagi sekedar di media sosial, tetapi sampai mempertengkarkan banyak hal. Saat bersama-sama dengan kawan-kawan MASIKA ICMI memilih untuk tidak mengibarkan bendera di sepanjang Istiqlal dan Istana Merdeka, saya dicap “kawan tidak baik” oleh Kang Deding dan dianggap “tidak kuat” oleh Puang Sukmono.

Sepertinya ruang sosial kita tetap terisi dengan perdebatan. Shalat Jumat di jalanan, jalan kaki ke jakarta, penahanan Buni Yani, bahkan tentang pelarangan sewa bis. Sekali lagi, semuanya tentang Ahok.

Perdebatan yang ada saat ini, bahkan lebih tinggi dibanding semasa pilpres 2014. Padahal Jokowi dan Prabowo sudah menunggang kuda, kemudian minum teh bersama. Hingga dalam sehari, saya harus membersihkan data yang ada di hape saya paling tidak empat kali karena melimpahriuhnya gambar, video, dan narasi tentang pelbagai hal yang juga tentang Ahok. Hampir menyamai kewajiban shalat.

Saudara-saudari, Sebangsa dan setanah air

Indonesia kita, amat layak diperjuangkan untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Modal sosial kita cukup hebat, sempurna, dan bahkan tanpa cacat. Dilengkapi pula dengan kemerdekaan yang diraih dengan kesatuan dan persatuan sebagai limpahan Rahmat Allah SWT. Tak ada perang saudara di masa lalu. Insya Allah juga di masa depan. Sumpah Pemuda salah satu buktinya. Para pemuda menyatukan Merauke ke Sabang dan menyebutnya Indonesia.

Saya mengetik catatan ini, saat menumpangi Garuda Indonesia (GA) dengan armada 777 seri 300 dari Narita ke Denpasar. GA menyandang label bintang 4 dari Skytrax. Status yang tidak dimiliki lebih dari 20 penerbangan dunia. Demikian pula 2015, GA juga mendapatkan anugerah sebagai cabin crew terbaik. Setelah sebelumnya juga sudah mendapatkan award yang sama.

Saya hanya ingin menegaskan bahwa GA merupakan salah satu contoh terbaik karya anak bangsa dalam arti pengelolaan perusahaan. Saat penerbangan lain bangkrut dan merosot, justru GA menjadi pemain dunia. Mulai mengaktifkan kembali rute-rute yang ditinggalkan ketika krisis moneter 1998.

Sebuah kebanggaan untuk turut menjelajahi bagian dunia dengan penerbangan karya bangsa sendiri. Layanan yang paripurna dan tetap dengan suasana tanah air.

Tetapi tidak cukup sampai di situ. Mari kita lihat perguruan tinggi kita. Jepang, sudah menempatkan dosen-dosennya di jajaran peraih nobel. Kota Tokyo akan menjadi tuan rumah olimpiade 2020. Walau dibom di dua kota, Hiroshima dan Nagasaki, tetap saja Jepang menjadi yang terdepan.

Sepanjang pekan, saya menemui kolega-kolega kami di dua perguruan tinggi Jepang, Chiba University dan Kyoto University. Mahasiswa Indonesia di dua perguruan tinggi tersebut, mampu menjadi bagian dari World Class University. Mereka menulis di jurnal dengan status Q-1, mendaftarkan paten, mengadvokasi pemerintah dan masyarakat untuk sebuah kebijakan dan perilaku yang dihasilkan dari penelitian, dan tak kalah pentingnya tetap mencurahkan perhatian untuk Indonesia.

Terakhir, dengan semua pertengkaran di media sosial, apa keuntungan yang akan kita raih? Saat ini deretan perguruan tinggi terbaik diisi oleh Jepang, Korea, China, India, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Tak ada huruf yang terangkai di situ yang membentuk kata Indonesia.

Energi kita terlalu banyak habis untuk bertengkar. Saat menyatukan pandangan untuk kejayaan bangsa. Persatuan harus menjadi kunci yang dieratkan kembali. Apapun preferensi politik dan agama yang kita pilih, seyogyanya dan sesorongnya bukanlah persoalan. Mari meneruskan kerja-kerja para peletak awal bangsa kita, sesuai ranah pengabdian yang kita pilih. Semuanya hanya untuk Indonesia.

GA 881, 27 November 2016

Komentar Pembaca