[Opini] POROS JAKARTA-PEKING II

0
98

 

Penulis : Ollenk

Pasar Minggu, 1 Januari 2017

Kemajuan ekonomi China mengagumkan dunia dengan pertumbuhan rata-rata 7% – 12% pertahun, bahkan tahun 2007 mencapai di angka 14,2% dan ditahun terakhir (2016) turun menjadi 6,7%, penurunan itu bukan karena mengalami depresiasi tetapi China sengaja mengurangi ekspornya dibidang consumer goods dan menutup sementara waktu beberapa industri manufaktur seperti furniture, mainan, mesin dan sepatu guna membangun keseimbangan ekonomi global dan mencegah inflasi.

Krisis keuangan global tahun 2009 mungkin memberi pengaruh tetapi kebijakan ekonomi China segera mengatasinya dengan memberi insentif dan pemotongan pajak sebesar rata-rata 17% kepada industri terdampak dan tahun berikutnya meningkat menjadi pertumbuhan sebesar 9,8% pasca mengalami gangguan keuangan.

Reformasi ekonomi China dimulai di era Den Xiaoping 1978 dengan politik pintu terbuka (kaifang Zhenze) dengan cara mengimpor kelengkapan teknologi dan mesin-mesin besar untuk menggerakan industri dalam negeri. Den mengeluarkan uang sebesar 2,6 Miliar dollar AS untuk belanja peralatan teknologi industri hulu seperti baja, minyak, listrik dan kimia dari Eropa, Amerika Serikat, Uni Soviet dan Jepang.

Disamping itu, dalam bidang pendidikan dikeluarkan kebijakan wajib belajar 9 tahun bagi anak-anak usia sekolah dan penangkapan terhadap orang tua yang mempekerjakan anaknya dimana seharusnya belajar.

Para guru digaji tinggi sehingga tidak memikirkan “pekerjaan nyambi” disamping tugas utama mengajar serta diberi status sosial utama ditambah dengan kebijakan mendorong sekolah keterampilan (semacam SMK) seluruh perkotaan dan pedalaman China juga meningkatkan fasilitas dan dana penelitian bagi universitas-universitas.

Modernisasi ala Den Xiaoping melingkupi; modernisasi militer, modernisasi ilmu pengetahuan dan teknologi, modernisasi pertanian dan modernisasi industri. Politik ekonomi China dalam membangun industrinya mengedepankan strategi bisnis patungan (joint venture), imbal dagang (counter trade) dan pemanfaatan area bebas dan tanpa pajak (ZEE), membangun kawasan-kawasan industri strategis serta pelabuhan-pelabuhan baru untuk menopang lalu lintas perdagangan.

Hasilnya, China sekarang tampil sebagai “naga besar” dunia dengan kekuatan ekonomi sekaligus memiliki kekuatan militer yang disegani, pusat industri manufaktur dunia dan tren tujuan pendidikan bagi mahasiswa asing termasuk Indonesia.

China secara politik memiliki sejarah panjang pertikaian dan penaklukan antar dinasti yang didasarkan pada kesukuan, sejak awal dinasti Xia (2100-1600SM) terbentuk hingga dinasti terakhir, dinasti Qing (1911) penuh pertumpahan darah, air mata, pemberontakan, persaudaraan, pengkhianatan, cinta dan kepahlawanan.

Dalam beberapa sekuel film kolosal China seperti: film “The Warlord” yang dibintangi Jet Li dan Andy Lau ; “Three Kingdoms” oleh Sammo Hung dan Andy Lau; “Crouching Tiger, Hidden Dragon” dengan bintang Chow Yun Fat; “Curse of The Dragon Flowers” masih digawangi Chow Yun Fat dengan latar pengkhianatan sang permaisuri dengan memanfaatkan putranya untuk merebut kekuasaan, atau sekuel epik adu cerdik, taktik dan strategi perang ala film kolosal “Red Cliff” seri 1 dan 2 dibawah arahan sutradara John Woo.

Film Red Cliff menghadirkan cerita kekuasaan dinasti Han antara pertempuran jenderal cao-cao dengan ratusan ribu prajuritnya melawan jenderal Liu Bei dan jenderal Sun Quan di selatan yang dianggap saingan dengan menuduh keduanya akan melakukan pemberontakan terhadap kaisar Han Xiandi. Sebelumnya Jenderal Cao-Cao telah menaklukan Jenderal Yuan Shao di utara melalui pertempuran guandu dengan kemenangan besar.

Berkat bantuan Zhuge Lian -diperankan Takeshi Kaneshiro, aktor Jepang- seorang ahli seni perang dengan menghitung secara cermat arah angin, kamuflase pasukan, kecepatan arus dan ketinggian air untuk menggerakan angkatan laut dipadu dengan serangan simultan pasukan darat akhirnya jenderal Cao-Cao kalah dan takluk dengan strategi “kura-kura” ala Lian dengan memisahkan barisan prajurit lawan lalu mengurungnya dengan prajurit Liu dan Sun. Red Cliff salah satu film favorit saya disamping Kingdom of Heaven, Braveheart, The Las Samurai dan Troy-nya Brad Pitt…hehe…kok cerita film sih? kembali ke laptop.

Saya tidak sependapat dengan Indra Piliang yang mengatakan, “sepanjang saya belajar sejarah, China tidak punya tradisi invasi..” (24/12/2016). Faktanya, China menginvasi Tibet sebagai Negara merdeka tahun 1950-1951 dengan dalih sebagai bagian dari wilayahnya sejak abad XIII atau 800 tahun lalu dimasa kekuasaan dinasti Yuan hingga dinasti Qing.

Tibet sebenarnya Negara merdeka dan berdaulat sejak 1931-1951 sebelum diinvasi China. Klaim historis China tersebut dinilai tidak berdasar menurut para sejarawan dunia karena dinasti Yuan maupun dinasti Qing merupakan dinasti yang didirikan oleh Kubilai Khan (cucu Jengis Khan) dari Mongol yang dikenal dengan etnis Manchu di China sekarang. Tibet sebelumnya merupakan wilayah berdaulat dan di pimpin secara teokrasi menurut ajaran agama Buddha oleh Dalai Lama, dan sekarang dipimpin oleh Dalai Lama ke-13 bernama Tensin Gyatso hingga menyingkir ke pengasingan di Dharmasala, India.

Demikian pula dengan invasi China ke klaim Provinsi Xinjiang (dulu bernama Anxi) dibagian barat daya yang dihuni sebagian besar etnis Aighur (keturunan Turki) beragama Islam. Selain Aighur, etnis Hui yang merupakan warga asli China juga beragama Islam mendiami Provinsi Gansu, Ningxia, Qinghai, Yunnan termasuk Xinjiang sendiri dengan pengerahan kekuatan militer dan pemindahan (transmigrasi) besar-besaran etnis mayoritas Han ke Xinjiang sehingga mengubah komposisi kependudukan di Xinjiang mapun di Tibet dan Mongolia dalam di utara perbatasan.

Demikian pula invasi China ke wilayah Vietnam baik ketika kekaisaran dinasti Yuan maupun di saat China modern tahun 1979 dalam sengketa perbatasan Negara yang dikenal dengan perang Indochina. Bahkan kekaisaran dinasti Yuan juga menginvasi Korea, Jepang, Myanmar dan tanah Jawa. Di Jawa prajurit dinasti Yuan bermaksud melumatkan kerajaan Singosari lalu dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menyerang Kediri dan mendirikan Kerajaaan Majapahit atas bantuan prajurit dinasti Yuan.

Sulit saya mengatakan bahwa itu bukan invasi China dengan dua alasan, pertama, dari aspek historis kekaisaran China, beberapa dinasti memang diperintah oleh etnis minoritas Manchu (Mongol) seperti dinasti Yuan dan dinasti Qing. Ekspansi wilayah dari kedua dinasti itu sangat luas dibandingkan dengan jaman dinasti bangsa Han sendiri.

Kedua, Klaim wilayah pemerintahan China modern di bawah kekuasaan PKC sejak tahun 1949 didasarkan pada luas wilayah capaian dinasti Yuan hingga dinasti Qing seperti luasan wilayah Negara China sekarang, termasuk wilayah sengketa laut China selatan yang diklaim Beijing dengan alasan-alasan historis maritime yang dirujuk pada masa dinasti Yuan.

Jika China hanya mengakui dinasti Han sebagai penduduk asli dan mayoritas etnis China maka wilayahnya tak lebih dari sepanjang bangunan tembok raksasa China yang terbentang sepanjang Beijing hingga Provinsi Ningxia di selatan dengan jarak sekitar 21.196,18 Km. menurut pemetaan badan kebudayaan China tahun 2007, dan di bangun sejak dinasti Qin, dinasti Han dan dinasti Ming. Maka klaim wilayah Tibet, Xinjiang, Mongolia dalam hingga laut China Selatan menjadi gugur dengan sendirinya dan tidak sah. (*)

Komentar Pembaca