[Opini] POROS JAKARTA-PEKING II

0
145

 

Pagi nan cerah dan mumpung masih libur awal tahun ditemani kopi dan sanggara unti, saya melanjutkan bahasan judul diatas sebagai refleksi makin menguatnya hubungan kedua negara dan aliansi baru serta realinsi sekutu baru baik kepentingan dalam negeri, kawasan maupun internasional.

Syahdan, jika China mengklaim laut China Selatan dengan alasan historis, maka sesungguhnya Indonesia pun berhak mengklaim daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit seperti seluruh semenanjung Malaysia, Singapura (Temasek), Brunai, dan Thailand di Selatan hingga wilayah Khmer di Kamboja dan Champa atau Chiem Tahnh di Vietnam. Tapi apakah mungkin? lalu bagaimana dengan hukum internasional yang mengatur? dan kewenangan badan Negara-negara dunia seperti PBB ? dalam hal ini posisi Indonesia tdk sekuat dengan China di PBB sebagai anggota tetap dewan keamanan yang memiliki hak Veto.

Dalam kasus sengketa laut China selatan dengan klaim wilayah secara historis diatas dan area tangkapan nelayan tradisionalnya yg ditetapkan secara resmi oleh pemimpin Chiang Kai Sek 1945 dimasa pemerintahan Koumintang meliputi gugusan kepulauan Spratly, Paracels, dan pulau Scarborough (pulau Huang yan). Ada enam Negara yang terlibat dalam sengketa tersebut yaitu China, Vietnam, Malaysia, Brunei, Filiphina, dan Taiwan.

Filiphina dibawah Presiden Benigno Aquino III bahkan mengajukan sengketa pulau Scarborough ke Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag Belanda dan akhirnya dimenangkan 12 Juli 2016. Seiring dengan perubahan peta politik internal Filiphina oleh Rudrigo Duterte sebagai Presiden terpilih seolah acuh dan mengabaikan keputusan tersebut. Dia malah menganggap sengketa itu sudah selesai setelah kungjungannya ke China Oktober 2016 dan mentalak Negara Paman Sam yang menjadi sekutu utamanya selama ini.

Hubungan ASEAN-China dalam perdagangan dan politik sangat mempengaruhi penyelesaian sengketa laut China selatan, dan nampaknya China mampu mempengaruhi seperti Filiphina, Vietnam, Malaysia apalagi Taiwan yang dianggap sebagai Provinsi pembangkang dan sekutu dekat Amerika di Asia.

Kesepakatan ACFTA dan makin seringnya China-Rusia melakukan latihan gabungan militer di laut China selatan membuat Negara lainnya keder bin kendor melihat kekuatan militer kedua sekutu dekat itu. China-Rusia seolah ingin menunjukan kepada Washington bahwa kawasan itu adalah miliknya dan jangan coba-coba diganggu.

Sikap Duterte yang ingin mengusir Amerika Serikat dari Filiphina sangat menguntungkan China dan Rusia dalam menanamkan pengaruh kawasan Asia khususnya ditenggara dan Timur. Laut China selatan tidak saja kaya dengan minyak bumi dan gas alam tetapi juga sebagai pangkalan armada perang bagi China dengan rencana pembangunan fasilitas militer dan pertahanan melalui perluasan pulau buatan.
Bagi kepentingan Indonesia, dianggap cukup dengan pengamanan kepulauan Natuna dari gangguan Negara lain dengan kunjungan Presiden Jokowi ditengah memanasnya sengketa laut China selatan pada 6 Oktober 2016.

China dan Rusia sejak perang dunia kedua merupakan sekutu paling dekat, –moyangnya sosialisme-komunisme–disamping Havana, Yugoslavia (sebelum pecah), Negara amerika latin dan beberapa Negara Afrika khususnya yang beraliran sosialis-komunis. Rusia (dulu Uni Soviet) membantu China sejak 1937-1945 membantu Mao Tse Tung dalam perang perlawanan pendudukan penjajah Jepang, perang saudara komunis vs nasionalis, hingga keterlibatan Uni Soviet dalam perang Korea 1950-1953 atas bujukan ketua Mao.

Bantuan Soviet selain keikut sertaan berperang juga berupa peralatan persenjataan; bantuan tank, pesawat, senapan canggih, bom, amunisi serta pelatihan dan keuangan yang dibutuhkan oleh China.

Di era 90-an pasca bubarnya Uni Soviet akibat kesalahan kebijakan Glasnost-Perestroika yang digagas Gorbachev –mirip konsep kaifang Zhenze Den Xiaoping–tetapi tanpa perencanaan matang dan gejolak politik elit partai akhirnya Uni Soviet bubar berkeping-keping menjadi 15 Negara baru lalu disibukan dengan stabilitas politik dalam negeri dan konflik bersenjata dengan Negara tetangga seperti Afganistan, Georgia, dan Ukraina.

Sementara Negara satelit seperti Polandia, Rumania, Hongaria, Bulgaria, Jerman Timur, Cekoslowakia (sekarang Negara Ceko dan Slowakia) dan Yugoslavia (sekarang Negara Slovenia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Macedonia dan Kroasia) semakin mengukuhkan diri sebagai Negara merdeka, bebas dari campur tangan pemerintahan pusat Rusia. Konon, konsep glasnost dan perestroika di infiltrasi oleh Amerika dgn tujuan untuk melemahkan Soviet.

Tidak demikian dengan China, Negara karibnya. China semakin memberi pengaruh kuat secara geo-politik kawasan Asia dan Afrika. Di tetangga China, India pengaruh Mao masih kuat dengan bertahannya “kelompok Mao” dalam perang gerilya melawan pemerintah India sekalipun beberapa tahun kebelakang makin menurun.

Di Negara Nepal beribu kota Katmandhu kelompok Maois berhasil memaksa perubahan sistem dari monarkhi ke republik dan berhasil mengambil alih pemerintahan dibawah pimpinan Prapandha Path.

Sementara di Filipina, pemberontak Maois masih berlangsung sampai sekarang sejak dibentuk 1930 dan di re-organisasi kembali 1968 dibawah pimpinanArmando Liwanag. Presiden Duterte melalui ayahnya merupakan simpatisan Maois, itulah sehingga begitu terpilih menjadi Presiden ia mengambil sikap lunak dan kompromi dan membangun hubungan diplomatik pragmatis dengan pemerintahan Xi Jinping dan mengabaikan kasus sengketa laut China selatan.

Di Negara Asia tenggara lainnya, Vietnam dan Laos merupakan Negara komunis berhaluan Maois ditambah dengan pengaruh ekonomi melalui investasi besar-besaran dipelbagi sektor industri membuat pertumbuhan ekonomi kedua Negara makin melambung.

Vietnam misalnya menyalib Indonesia untuk sektor industri garmen, bahan tambang, pertanian, pariwisata, minyak bumi, beras, karet dan aneka kayu. Bahkan di Malaysia, pengaruh ideologi komunis pernah tumbuh subur ditahun 1930-1989 melalui Parti Komunis Malaya (PKM) dan berakhir setelah ditanda tangani perjanjian antara PKM, Kerajaan Malaysia dan Kerajaan Thailand.

Sementara di benua Afrika, Negara-negara seperti Sudan, Gambia, Gabon, Angola, Ethiopia, dan Tanzania, China berinvestasi sangat besar dan membangun infrastruktur strategis di pelbagai industri seperti konstruksi, fasilitas umum, pembangkit tenaga listrik, sistem telekomunikasi, tembaga, biji besi dan penyulingan minyak dan lain-lain dengan nilai investasi US$ 100 Milyar lebih.

Bahkan beberapa Negara menggunakan bahasa Mandirin dan diajarkan ke sekolah-sekolah, Negara Zimbabwe justeru menggunakan mata uang Yuan dalam transaksi sehari-hari serta kebijakan China untuk melakukan penjadwalan ulang utang 30 Negara Afrika dan bahkan menghapuskannya.

Dalam kaitan ketenagakerjaan, China memang membawa tenaga kerja sendiri dari professional hingga buruh dan atau menggunakan buruh orang afrika dengan gaji rendah.

Bahkan China juga telah membangun pangkalan militernya diluar negeri di Afrika Timur (tanduk afrika) dengan lahan seluas 36,4 Hektare dan diresmikan tahun ini 2017.

Ekspansi ekonomi dan militer China sangat dikuatirkan oleh Amerka Serikat, Inggeris dan Prancis yang sebagian besar merupakan Negara bekas koloni yang tergabung dalam Commenwealth (jajahan Inggris) dan Francophonie (jajahan Prancis). Warga Afrika mengatakan, memang Amerika dekat dengan kami, tapi China lebih mengerti keinginan dan kepentingan kami. Hmmm…

Ekspansi ke Negara lain dan memberi pengaruh dalam dogma Den Xioping disebutkan sebagai “ kedalam sosialisme, keluar kapitalisme”. Ungkapan lainnya yang terkenal, “tak peduli kucingnya itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus”. atau memberi julukan kepada para guru dan pendidik dengan sebutan, “Ayam petelur emas”. China tampaknya harus bersyukur memiliki Den Xioping yang mampu memberi visi dan menggerakan dengan kata-kata dan tindakan.

Membaca peta pengaruh China diatas dari era kekaisaran, pergolakan dijaman modern hingga kemajuan ekonomi, industri, pendidikan dan teknologi serta militer sebagai Negara kekuatan baru bahkan teknologi luar angkasa mampu mengimbangi NASA Amerika yang lebih dulu mendarat di bulan.

Penulis : Ollenk, Pasar Minggu, 2 Januari 2017

Komentar Pembaca