[Opini] POSISI ILMU DAN KETAKUTAN DUNIA ISLAM

0
214

POSISI ILMU DAN KETAKUTAN DUNIA ISLAM
(Refilosofi Beragama dalam dimensi Kebudayaan)

Muh.Faisal MRa

Dosen Unismuh Makassar

Benarkah Barat itu mencuri khazanah ilmu-ilmu milik orang Islam? Maaf, saya tidak percaya itu. Dari dulu, pada dasarnya ilmu itu terbuka bagi siapa pun, hanya saja memang dibutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam mempelajari, menguasai dan mengembangkannya. Dulu, ketika Barat mengalami Abad Kegelapan, dan peradaban Islam sedang berjalan menuju masa keemasannya, banyak kalangan terpelajar Nasrani–hanya saja karena nama mereka memang sama dengan nama orang Arab pada umumnya, sehingga dikira Muslim–ditugasi untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Latin ke dalam bahasa Arab, untuk kemudian dikaji oleh para pelajar Muslim, dipahami dengan baik dan bahkan kemudian dikembangkan. Lalu kita semua pun tahu bahwa Islam pernah mencapai masa kejayaan keilmuan di masa Abbasiyyah dan lain sebagainya.

Lalu peradaban Islam mengalami persentuhan dengan Barat, terutama dalam Perang Salib, dan ilmu-ilmu yang telah dikembangkan para cendekiawan Muslim itu pun perlahan-lahan beralih ke peradaban Barat, dan di antaranya sampai kepada Rene Descartes yang mendapat inspirasi dari Imam Al-Ghazali, sang Hujattul Islam. Pada masa itu, karya-karya Al-Ghazali telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Dominicus Gundisalvus, dan salah satunya adalah Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan) yang merupakan buku autobiografi sang Imam. Descartes memiliki terjemahan bahasa Latin buku tersebut, dan mendapati ungkapan “Keraguan adalah peringkat pertama keyakinan” yang kemudian diberi garis merah dan dilengkapi tulisan tangan dari Descartes di sampingnya “Pindahkan ini ke dalam metode kita.” Kata-kata lainnya yang lebih lengkap dari dalam buku itu adalah “Keraguanlah yang mengantarkan pada kebenaran.

Barang siapa yang tidak merasa ragu, maka ia tidak memandang. Barang siapa yang tidak pernah memandang, maka ia tidak pernah melihat. Dan barang siapa yang tidak pernah melihat, maka ia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan.” Lalu, Descartes pun membuat parafrase dari ungkapan Al-Ghazali tersebut menjadi “Keraguan adalah jalan pertama menjadi keyakinan” (La doute est le premier pas vers la certitude). Dari mimpi dan inspirasi Al-Ghazali tersebut, maka Descartes pun merumuskan metodenya yang dikenal sebagai “Dubium Methodicum” (Metode Keraguan).

Dalam baris pembuka buku Meditations I, Descartes menuliskan: “Hal itu dimulai ketika aku pertama kalinya menyadari betapa banyaknya opini keliru yang aku terima sebagai kebenaran dari masa kecilku, dan betapa meragukannya keseluruhan struktur pemikiran yang aku bangun di atas landasan yang salah itu. Karena itu, aku mengerti bahwa aku harus—kalau aku berkeinginan untuk berbuat sesuatu di dalam ilmu pengetahuan yang kokoh dan bisa diandalkan hingga detik terakhir—memperketat diriku sendiri dalam memperlakukan semua opini yang aku terapkan, serta memulainya dari landasan yang baru.”

Bersamaan dengan mulai meredupnya cahaya kegemilangan peradaban Islam, ketika para khalifahnya menjadi gemuk karena doyan berpesta pora serta gemar merayakan syahwat dan hawa nafsunya, maka peradaban Islam pun perlahan ambruk, bahkan salah satunya oleh bangsa yang tak mengenal budaya baca tulis, bangsa yang dari lahir hingga mati seringkali berada di atas kuda. Dan akhirnya beralihlah berbagai ilmu yang telah dikembangkan oleh para cendekiawan Muslim itu ke Barat dan berkembang di sana. Seperti perkataan Ed Hoffman dalam film Body of Lies: “Kalian (umat Islam) memang menemukan aljabar, namun kamilah yang tahu bagaimana menggunakannya.” Memang tak jarang ada ketidakjujuran dalam penulisan sejarah Barat yang mengecilkan peran peradaban Islam, namun itu sudah banyak dikritik dan direvisi. Selain itu, apakah benar Barat menyembunyikan ilmu-ilmu tersebut setelah mereka kembangkan?

Seperti saya katakan sebelumnya, pada dasarnya ilmu itu hak bagi siapa pun dan terbuka untuk dipelajari oleh siapa pun. Bukan hanya itu, banyak negara maju di Barat memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mendapat beasiswa dan belajar di kampus-kampus terkemukanya lengkap dengan fasilitas perpustakaan yang luar biasa dan para pengajar yang mumpuni asal memenuhi syarat untuk menerima beasiswa. Sebenarnya, dengan keterbukaan tersebut, terlebih dengan adanya internet dan banyak beredarnya buku-buku pdf gratis, seharusnya umat Islam bisa mengambil dan mengembangkan kembali semua ilmu tersebut kalau merasa bahwa Barat telah mencurinya dari umat Islam. Namun, apakah hal tersebut terjadi?

Toh banyak teman-teman saya di FB yang juga menjadi dosen bisa menceritakan bagaimana di banyak kampus di Indonesia ini yang sering terjadi adalah saling sikut di antara para pengajar untuk meraih jabatan dan sabet jaya proyek penelitian apa pun dengan hasil asal-asalan hanya untuk mengejar uangnya saja. Hasrat semacam itulah yang menumpulkan pengembangan ilmu dan tradisi menulis ilmiah di kalangan akademisi Indonesia yang sangat memprihatinkan. Banyak teman-teman di sini yang menjadi dosen di universitas bisa bercerita ihwal para dosen yang punya komitmen tinggi dan integritas dalam kelimuannya namun malah menjadi dosen yang paling melarat dan tak dihargai keahliannya karena dipandang tidak punya manfaat praktis bagi para calon kuli berdasi yang akan menjadi sekrup dunia industri nantinya.

Selain itu, karena kini biaya kuliah pun mahal, maka para petinggi di kampus bisa merasa bersalah apabila memberi beban kuliah dan tugas yang dianggapnya berlebihan, walau pun itu hanya tugas membaca dan menulis makalah. Semakin mahal biaya kuliah seolah mengisyaratkan bahwa kuliahnya jauh lebih mudah dan gampang lulus. Uang bisa membuat tuntutan belajar menjadi jauh lebih gampangan. Bagaimana kalau seandainya diberlakukan ujian lisan; ujian yang bisa bikin mahasiswa mati berdiri kalau tidak pernah membaca dan memahami materi perkuliahan yang diajarkan; maka kampus tersebut tidak akan laku.

Selain tu, jangan heran kalau sebagian akademisi di berbagai kampus di Indonesia menjadi tertumpulkan gairah keilmuannya dengan hasratnya terhadap uang dan jabatan, belum lagi godaan untuk terjun ke dunia politik. Ketahuilah, seorang akademisi yang terjun ke dunia politik harus menerima kalau dirinya tidak lagi dipercayai oleh masyarakat, karena akademisi itu lebih dipercaya daripada politikus.

Jadi, janganlah menyalahkan dan menuduh Barat sebagai ‘pencuri’, dan cobalah introspeksi diri sendiri: bukankah begitu banyak ketakutan di kalangan umat Islam sendiri saat mempelajari ilmu ini itu? Belajar filsafat dianggap akan bikin murtad; belajar feminisme akan dianggap cuma jadi tukang bakar ‘beha’, dan banyak stereotip lainnya yang malah mematikan semangat belajar. Bagi yang pernah mengikuti gerakan Islam radikal atau fundametalis tentu tak akan asing dengan peringatan: “Jangan belajar ilmu anu, itu ilmu kafir…” Mursyid saya menandaskan sebagai berikut: “Katanya ada seekor naga di balik gunung, di suatu negeri.

Tapi itu katanya—dan tak jelas kata siapa. Sebagian besar orang di negeri itu memilih berlindung diri walau tidak pernah melihat, apalagi bertemu sang naga; tak mau berusaha untuk mencari tahu hingga akhir hayat, hidup dalam ketakutan terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui perihal ada atau tidaknya. Hanya sedikit sekali di antara mereka yang berani menghampiri, mencari tahu. Itu perlu keberanian, jiwa ksatria. Keberanian untuk salah, kalah, bahkan mati. Tapi mereka yang berani itu memenangkan sebuah keyakinan; tahu yang hakiki.”(*)

Komentar Pembaca