[Opini] Waktu

0
224

Waktu

Oleh Mohd. Sabri AR

 

Detak waktu adalah sebilah episentrum dalam kehidupan. Segala sesuatu “mengalir” di dalam waktu. Eksistensi manusia pun mengarus di dalam penggalan momen-waktu. Sebagai momen yang terpotong-potong, waktu sebab itu, bisa dirinci dalam detail yang rumit menurut hitungan fisika, yang dalam pendakuan filsuf Henri Bergson disebut sebagai “waktu fisis” atau waktu “obyektif”.

Ide tentang waktu fisis berakar dari titik singularitas “big bang” pada awal penciptaan alam semesta, 15 milyar tahun lalu. Dari situlah waktu bermuasal: melesat maju, tak pernah lagi berbalik mundur ke dalam keadaan tanpa-waktu. Waktu adalah kondisi intrinsik dari keberadaan segala sesuatu. Keadaan tanpa-waktu, adalah ketiadaan. Dan dalam ketiadaan, tak ada apapun yang bisa dinalar perihal segala sesuatu. Fisika menegaskan, tiada apapun sebelum waktu.

Namun, pernahkah terlintas dalam permenungan kita soal waktu-metafisis? Dalam tradisi sufisme dikenal adanya metafisika tentang waktu. Penggiat sufi Louis Massignon (1958) mendaku, ide tentang waktu dalam tradisi keagamaan monoteis dan transendental semisal Islam, mempunyai visi yang jauh berbeda dengan fisikawan materialis yang mengandaikan  waktu sebagai “dimensi keempat” menyusul “tiga dimensi ruang”. Dalam perspektif sufisme, perihal waktu diletakkan dalam dua kategori konseptual: pertama, “waktu mutlak” (al-dahr), waktu sebagai totalitas atau “perlangsungan murni” (pure duration) dalam pendakuan Bergson, dan kedua, “Waktu yang terus menerus sirna” (al-waqt), waktu yang terpenggal-penggal, waktu sebagai parsialitas.

Sementara manusia mengarus di dalam al-waqt, Allah dipahami berada di luar waktu, tapi menguasai al-dahr, totalitas waktu (masa lalu, masa kini, masa depan: dari pra-keabadian hingga pasca-keabadian). Allah swt. selalu mengingatkan manusia perihal berakhirnya “zaman” (yakni waktu-kosmis-fisis), juga tentang “saat” kematian persona tiba, sebagai momen ketika manusia sirna dari dimensi fisis-kosmis.

Tradisi sufisme mengandaikan: sikap terbaik manusia yang ditakdirkan “tercelup” di dalam arus-waktu, adalah dengan senantiasa melalukan permenungan dan dzkir. Tindakan dzikir identik dengan ketercelupan “aku-ontologis” untuk menangkap kembali sebilah ajakan sublim, bisik yang memanggil yang-tak-hadir. Tiap napas dzikir diandaikan langkah malu-malu dan lemah yang mencoba mendekati Yang Kekal, Yang Indah, Yang Mutlak, yang berada di balik waktu: sementara yang didekati, tak-ada-di sana–Sunyata.

Di titik ini, yang terbit kemudian adalah sepi. Kesenyapan yang paling mutlak. Mungkin itu sebab, Ibn ‘Arabi meletakkan dzikir sebagai tindakan manusia di dalam waktu untuk berjumpa dengan dan tenggelam  di dalam Yang Maha Lain, di luar waktu.(*)

Komentar Pembaca