Orang-Orang Besar yang Datang dan Pergi

0
111
inspiratifnews.com-mauliahmulkin
Inspiratifnews.com-opini, Ahad pagi seperti biasa kami seisi rumah bangun pagi-pagi sekali. Karena baik libur ataupun sekolah seisi sudah terbiasa bangun Subuh hari. Karena waktu sholat toh tak mengenal hari libur. Ketika ada satu anggota keluarga yang mulai menyetel musik berirama agak keras yang bersemangat, yang lain pun akan membiarkannya sebagai pertanda kerja bakti mengerjakan tugas masing-masing telah dimulai. Kalau bukan mereka yang menyalakan musiknya, saya yang akan menyetel radio di dapur sebagai teman pengiring pekerjaan.
Hari ini semangat itu tetap masih tinggi. Dan tanpa komando dan instruksi dari siapa pun masing-masing anak dan saya sendiri akan bergerak kesana dan kemari sibuk mengatur dan memindahkan benda-benda yang tidak berada pada tempatnya. Buku-buku yang melintang pasrah di rak, kertas-kertas dan pulpen yang diletakkan sembarangan, baju-baju kotor yang siap diputar di mesin cuci, halaman kotor karena daun-daun mangga yang jatuh saban pagi dan sore dari pohon tetangga. Semuanya secara perlahan bisa terselesaikan dengan cepat dan bersih. Tanpa omelan dan tanpa teriakan. Jauh lebih mengasyikkan dibandingkan kerja dengan iringan instruksi-instruksi yang sudah jelas diketahui.
Khusus buat saya, hari ini adalah fokus bersih-bersih mempersiapkan ruang baca yang terletak di area belakang toko. Karena hari ini di sana akan kedatangan seorang tamu, penulis buku (Rumahku Sekolahku dan Biografi Anak Tentara Melawan Orba), aktivis, guru, pembicara, yang sudah seperti keluarga sendiri. Dr. Syafinuddin Al-Mandari (Din Mandar). Hanya karena bermukimnya selama ini di Jakarta, maka hanya sesekali saja kami bertemu. Itu pun jika beliau ada undangan seminar atau sebagai narasumber di suatu tempat di Makassar dan sekitarnya. Bertepatan hari ini ada Kelas Literasi pekan kedua di tahun 2016. Didapuklah ia untuk menjadi pembicara di depan teman-teman nantinya.
Namun ternyata selain dia, mendadak ada info dari teman di organisasi lain bahwa saat ini di Makassar sedang hadir kader HMI yang mana saat ini beliau menjabat sebagai staf khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, mas Muhammad Chozin Amirullah. Karena bertepatan dengan kegiatan Ikatan Guru Indonesia yang diselenggarakan di Gedung LAN pagi tadi, maka lagi-lagi dimintalah kesediaan beliau untuk hadir ke tempat kami untuk berbincang soal pendirian sekolah. Pada jam yang sama, jam 2 siang. Dua kegiatan penting yang bersamaan berlangsung di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai toko buku. Bincang-bincang tentang pembentukan sekolah dilakukan sambil lesehan di ruang tamu, sementara kegiatan rutin kelas literasi tetap bertempat di ruang belakang seperti biasa.
Melihat motor-motor yang bermunculan satu per satu dan satu dua mobil yang diparkir terpaksa di pinggiran jalan, membuatku makin bersemangat menyambut kedatangan mereka. Paradigma Ilmu kembali selalu meriah khususnya di hari Ahad.sebagaimana tahun-tahun yang telah lewat. Laki-laki dan perempuan, ibu-ibu dan bapak-bapak muda, bahkan baberapa peserta ada yang masih bayi, semuanya berbaur dalam satu semangat yang sama.
Tak salah jika teman-teman dari luar Makassar seringkali menyebut rumah kami sebagai “Wisma Pabbentengang”. Karena siapa pun teman-teman aktivis yang jalan-jalan ke Makassar, baik karena urusan kerjaan, urusan seminar, atau pun sekadar transit, rasanya kurang afdol kalau tidak menginjakkan kaki mampir ke rumah ini. Dan kami sekeluarga dengan tangan terbentang lebar akan menanti siapa pun yang ingin mampir di sini. Mereka orang-orang besar yang datang dan pergi. Meninggalkan jejak-jejak pemikiran bagi siapa pun yang terusik dan tersadar.
Penulis : Mauliah Mulkin/Sastrawan/Penggiat Literasi Makassar

Komentar Pembaca