Patung oh Patung (Sebuah Narasi Patung Nurdin Basri)

0
98
Tulisan pada patung Nurdin Basri di Karebosi Link.

Saya agak tercekak membaca beberapa postingan di media sosial, seorang lelaki yang tak pernah punya nama, tak pernah disebutkan dalam cerita dan dongeng, tak pernah punya kisah “pahlawan”, dibuatkan patung, disebuah tempat yang menjadi sejarah bagi warga kota ini. Di Karebosi, ada patung, patung seorang “tokoh” yang direproduksi oleh bayang-bayang kapitalisme.

Saya hampir saja terkecoh, karena semula mengira patung “toko”, bukan “tokoh”, karena saya tau bahwa dibawah hamparan lapangan yang luas itu, banyak kios-kios penjual pakaian.

Andai saja sang “tokoh” itu adalah mereka yang dilahirkan oleh sejarah, mungkin publik tak akan heboh, atau malah protes. Nama nya (sebut sendiri ki…..), tertulis dengan mantap “seorang pemuda yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk membangun lapangan karebosi Makassar”. Seolah akal sehat saya menolak, ia disebut dengan kata-kata “mengorbankan jiwa dan raga”, seolah ia pahlawan perang yang pulang dari pertempuran dahsyat dan mematikan. Atau seorang pejuang kemanusiaan, yang menyelamatkan banyak orang dari kemiskinan dan penindasan negara atau rezim.

Seorang pengusaha, yang memoles karebosi menjadi enak di pandang, bukan lah proyek gratis. Ia memakan banyak “korban” dan dipersoalkan oleh banyak orang, hingga kini, tempat ini masih menyimpan cerita yang belum usai. Gugatan masyarakat bukan Cuma satu kali, dan celakanya, banyak yang menuding, tempat itu dan perubahan yang menyertainya dipenuhi intrik. Tak elok bila seorang yang tak benar-benar punya jasa, diliputi oleh berbagai masalah prosesnya, lalu menjadi ikon. Karena anak kami suatu hari akan bertanya, ikon apakah orang ini?.

Patung memang tidaklah begitu penting, karena Cuma hanya campuran semen dan batu. Tetapi patung dapat menjadi symbol “kejayaan”, kepahlawanan atau “peringatan”. Mereka yang dibuatkan patung adalah mereka yang benar-benar memiliki cerita heroik, bukan pecundang yang meraup keuntungan dari uang negara dan uang daerah. Patung dibangun bukan kebetulan karena orang punya uang untuk membayar tukang, sebab jika demikian cara berpikirnya, maka setiap mereka yang punya uang bisa bikin patung dimana-mana, dan kota ini akan menjadi kota patung. Lalu lama-lama kita “menyembah patung”.
Patung..oh patung…

Makassar, 20 Maret 2017 

Penulis : Fajlurrahman Jurdi (Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin)

loading...

Komentar Pembaca