Pemerintah Iran Blokir Akses Internet Akibat Demo, Begini Kata Pakar Ilmu Komunikasi UIN Alauddin

0
185

Inspiratifnews.com-Makassar Pemerintah Iran memutuskan untuk menutup akses internet, dan memblokir media sosial Telegram dan Instagram. Pemblokiran dilakukan sebagai buntut dari aksi demonstrasi yang terus meluas, hingga berujung kerusuhan.

Dikutip dari Washington Post, Senin (1/1/2018), salah satu alasan pemblokiran tersebut karena belum lama ini sempat tersebar video yang merekam tewasnya dua orang demonstran pada Ahad (31/12/2017) lalu. Karena itu, pemerintah Iran merasa perlu memutus akses internet agar bisa mengontrol kerusuhan akibat aksi protes dari para demonstran tersebut.

Pakar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Haidir Fitra Siagian, Ph.D mengatakan bahwa memang saat ini pengaruh media sosial sangat penting dalam konteks politik, sebab hal Ini terkait dengan penyampaian pesan-pesan politik dari para aktor politik kepada khalayak atau komunikan.

“Disamping proses penyampaian yang sangat cepat, banyak tanpa henti dengan berbagai latar belakang dan kontennya, juga efektif untuk memengaruhi khalayak, terutama masyarakat yang berada dalam level menengah ke bawah. Melalui media sosial, komunikator politik dengan mengarahkan khalayak sesuai dengan keinginan atau kepentingan politiknya” ungkapnya, Senin (1/1/2018)

Ia menjelaskan bahwa seperti halnya yang terjadi di Iran, para demonstran menggunakan media sosial untuk memprogandakan kepentingan politiknya untuk melawan pemerintahan yang sedang berkuasa. Sementara itu pemerintah dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, berusaha memutus mata rantai informasi yang selama ini digunakan para demonstran.

“hal ini dalam konteks politik dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan kekuasaan, namun dari satu aspek tentu dapat dikatakan sebagai sesuatu yang menghalangi kebebasan warganya dalam beraktifitas dan usaha memperoleh informasi” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui bahwa demo yang terjadi di Iran hingga saat ini merupakan ekspresi ketidakpuasan publik yang paling serius di Iran sejak demonstrasi 2009. Para demonstran dilaporkan meneriakkan beberapa slogan, termasuk “Rakyat mengemis, ulama bertindak seperti Tuhan.”

Dilansir BBC, Sabtu, (30/12/2017), protes itu bahkan digelar pula di kota suci bagi ulama yang berkuasa yaitu Qom. Protes terbesar terjadi pada Kamis di Kota Masyhad di Timur Laut, lalu terjadi 52 penangkapan di sana.

Meskipun pemerintah telah berupaya untuk menyensor, namun hingga saat ini informasi masih mengalir masuk dan keluar dari Iran kepada sejumlah masyarakat. (uc2)

Komentar Pembaca