PPI Gelar Dialog Pancasila di Warkop Cappo

0
62

Inspiratifnews.com, Makassar-Dialog publik yang bertajuk penguatan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, berlangsung di Warkop Cappo Alauddin (28/01/2016).

Dialog yang dilaksanakan oleh Poros Pemuda Indonesia (PPI) ini sangat relevan ditengah kondisi bangsa yang dikatakan oleh banyak tengah carut marut dengan seribu satu problematika yang melanda. Tentu kejadian teror dan isu ISIS yang banyak menyita perhatian kita menyebab semua elemen bangsa harus senantiasa berpikir dan mencarikan solusi guna merawat keutuhan NKRI.

Menurut Alwi Rahman salah satu pembicara dalam dialog publik ini bahwa nusantara ini telah terbentuk lama disana ada para bangsawan yang rela menyerahkan kekuasaan dan hartanya demi terbentuknya republik ini. Namun, apa yang terjadi pada bangsa ini kemudian dengan demokrasi one man one vote yang telah menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Bahwa tidak banyak negara didunia ini seperti Indonesia yang kaya akan suku, ras, etnik dan budaya tetapi bangsa ini toh tetap berdiri sebagai bangsa yang besar, menariknya ditengah keanekaragaman bangsa ini ada saja pihak-pihak yang merasa risih melihat kemesraan yang terjalin ditengah kemajemukan itu. Menurut Hidayat salah satu pembicara menyebutkan yang terjadi pada bangsa ini ada banyak sekali konspirasi besar yang menyertainya seperti Soekarno turun jabatan hingga Gus Dur harus minggat dari istana kesemua ini menandakan adanya badut, bandit dan bandar yang bermain dibalik perjalanan bangsa ini.

Selain itu menurut Dr. Aswar  dosen UNHAS memaparkan perlunya menjaga keutuhan bangsa ini, sebab persoalan besar yang tengah mengancam bangsa ini adalah ancaman perpecahan. Lebih lanjut pula Alwi Rahman menambahkan bahwa bangsa ini terlalu kekanak-kanakan dalam berpolitik hal ini ditandakan dengan tagline bantuka cappo ataupun wattunnami. Ketika para politisi bersumpah mereka bersumpah atas nama dirinya sendiri berbeda dengan budaya Bugis-Makassar ketika seorang pemimpin diangkat menjadi raja maka rakyatlah yang bersumpah padanya berisi “ambillah dari kami yang sewajarnya, mintalah dari kami yang sewajarnya dan gunakanlah dari kami yang sewajarnya, ingat cuman kami yang bertuan tetapi badik kami tak bertuan sehingga apabila ada diantara sumpah kami yang dilanggar maka badik kami akan keluar”, tambah Alwi Rahman lebih lanjut bahwa budaya Bugis-Makassar setia kepada pemimpin sehingga kapan kita melihat Jendral M. Yusuf menghianati Soeharto dan B.J. Habibie mengadili Soeharto.

Pada sesi terakhir dialog publik ini closen stateman bahwa kita telah ditakdirkan menjadi bangsa Indonesia dan kita menyebut negeri ini dengan ibu pertiwi maka janganlah kita mengkorupsi ibu pertiwi dan menghianati ibu pertiwi.(AHD)

Komentar Pembaca