Primitif Abad Nuklir

0
62

“Primitif Abad Nuklir”

Oleh : Ahmad Obama*

Abad 21 ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi yang membuka tabir pengetahuan modern yang hampir meluluh lantahkan tradisi kemanusiaan (siapakatau) dengan memperTuhankan sains modern dan teknologi mutakhir. Kehebatan manusia dipertunjukan dengan karya yg maha dahsyat sampai menembus planet. Tehknologi dibuat untuk melayani hasrat manusia, manusia yang berkuasa adalah mereka yang mengendalikan teknologi dan informasi.

Senjata dibuat dengan alasan melindungi manusia dari serangan atau gangguan manusia lain dan atas nama HAM mereka bicara melindungi bangsanya dari serangan dari luar. Nuklir dibuat untuk alasan kemaslahatan universal yang terkadang menjadi ancaman kemanusian, dan dengan alasan itupula mereka akan diserang atau dimusnahkan karena akan membahayakan nyawa manusia. Ketika teknologi dan sains dikuasai oleh manusia serakah maka, yang mereka cipta adalah teror bukan kedamaian. Nilai kemanusiaan hanya menjadi buah bibir untuk membohongi publik karena mereka pula yang mengendalikan informasi (media), lalu mereka bicara tentang membangun “peradaban”. Peradaban yang penuh kebiadaban, penuh dengan dusta karena darah mengalir dimana-dimana, isi kepala berserakan dimana-mana tapi mereka membual dengan memperjuangkan HAM.

Isi kepala tanpa isi hati, akan membabi buta, liar dan merusak akal sehat. Lalu mereka masih saja berbicara atas kemanusian dengan mengendalikan “kepala-kepala” yang isinya “otak” bukan akal sehat. Mereka mengendalikannya dari jarak jauh dengan iming-iming “isi perut” dan pemuas hawa nafsu. Kepala-kepala tadi selalu berbicara moral, pembangunan, bahkan kemanusian mereka paparkan dengan faseh dengan gaya merakyat atau juga dengan gaya “orator” ala memimpin pasukan perang. Lalu mereka “memenggal” leher kemanusian untuk dijual dengan harga melangit demi keserakahan para kepala-kepala, diakibatkan kosongnya HATI dan rapuhnya keimanan.

Peradaban tidak sekedar kemajuan teknologi dan informasi serta percaturan ilmu pengetahuan tapi tentang suasana kebathinan karena disitulah kemanusiaan dibentuk, bukan sekedar bicara tetang pengetahuan dalam berbagai bidang keilmuan ( budaya, ekonomi, politik, hukum dan sosial) tapi tengtang isi hati dengan akal sehat bukan “otak” karena semua binantang berotak. Peradaban tetang menghadirkan “rasa” kepedulian, perdamain, dan toleransi dalam berbangsa dan bernegara.

Kemajuan abad 21 menjadikan manusia kehilangan nilai transenden yang berakibat pada kepatuhan dan ketundukannya pada yang namanya “Tekhnologi”. Tekhnologi telah merubah suasana “kedaban” menjadi kealpaan pada hubungan kemanusian karena bicara bukan lagi rasa tapi akal. Teknologi telah menyulap wajah manusia menjadi “bermuka dua” dengan menjadikan gadget sebagai perantara untuk mengungkapkan hasratnya. Kemajuan ini bukanlah sesuatu yang harus disesali karena inilah abad 21, abad dimana manusia berjalan dengan kekuatan sains.

Kita tidak ingin mencaci maki sains dan teknologi karana kemajuan tidak bisa dihindari tapi jangan sampai teknologi menjadi “Tuhan” mengantikan posisi pencipta dengan ciptaanya, maka disitulah manusia kembali kepada kondisi yang bernama “Primitif Abad Nuklir”. (EO)

*Ketua Umum DPD IMM SulSelbar

Komentar Pembaca