Raja Tallo Ke 19 : Saudaraku Raja Gowa Diinjak-injak Bupati

0
537

Inspiratifnews.com – Makassar — Raja Tallo ke-19 sekaligus Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Paricu Muhammad Akbar Sultan Aliyah Daeng Manaba Karaengta Tanete, menyatakan Kerajaan Gowa telah dizalimi oleh Pemerintah dan DPRD Kabupaten Gowa. Hal tersebut menyusul pemberlakuan Perda LAD yang menempatkan kedudukan bupati setara raja alias somba. Meski menolak disebut raja, tapi bupati telah mengambil peran dan fungsi raja.

Ia mengaku amat menyayangkan upaya pemerintah yang terkesan mengaburkan sejarah dan budaya. Bupati, kata dia, selamanya tidak bisa otomatis menjadi raja. Musababnya, yang berhak menjadi raja haruslah berasal dari garis keturunan.

img_20160917_184236-640x361
Kerajaan Tallo foto bersama dengan Kerajaan Malaysia setelah penandatanganan kerjasama pembuatan film sejarah kerajaan gowa makassar. (ish)

Hal itu dikatakan Raja Tallo saat menyambut Datuk dari Malaysia, Sri Rozaini binti Nawawi, Sabtu lalu. Kedatangan Rozaini dalam rangka MoU antar Kerajaan dan akan melakukan kerja sama pembuatan film sejarah kebudayaan Makassar, Kerajaan Gowa-Tallo dan Malaysia.

“Hari ini saya berduka, karena saudara saya Raja Gowa telah diinjak-injak. Saudara Kerajaan Gowa adalah Kerajaan Tallo. Penyelesaian sengketa di Gowa harus segera selesai,” tegas Sultan Aliyah. Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo diketahui merupakan kerajaan kembar.

Lebih jauh, Sultan Aliyah mengatakan rakyat Gowa dan keluarga kerajaan tidak perlu permasalahkan Perda LAD. “Yang patut kita permasalahkan adalah pengangkatan Bupati Gowa Adnan yang mengklaim dirinya selaku Sombayya,” jelasnya.

“Yang jadi masalah hingga membuat rakyat Gowa terprovokasi adalah pengangkatan Adnan secara simbolik selaku Raja. Nah ini masalah, bupati yah bupati, raja yang memang sudah secara adat dia yang melakukan ritual adat,” sambungnya.

Adapun, kedatangan Datuk dari Malaysia di Hotel Aryaduta, Makassar, menjadi momentum menyatukan persepsi mengenai kerajaan. Kedatangan datuk dari Malaysia pun berlangsung meriah dan disambut berbagai prosesi termasuk tarian empat etnis, yakni dari Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar.

Dilanjutkan sejumlah pemuda mempersembahkan tarian tradisional yakni “Parigi To Barania” menggambarkan betapa kentalnya loyalitas punggawa dan kesatria kerajaan. Para pemuda ini menunjukkan atraksi, dengan menusukkan badik ke arah perut, lengan, pundak dan lidah. (*)

Komentar Pembaca