Sajeng Rennu, Soundtrack Film Silariang Karya Art2tonic

0
2848

Inspiratifnews.com – Makassar, Sineas Makassar kembali menggarap film lokal Makassar yang menampilkan budaya Makassar diangkat menjadi sebuah cerita diberi judul ‘Silariang’.

Film ini punya 2 versi yakni Silariang yang diproduksi inipasti comunika, sutradaranya Wisnu Adi dan paramedia indonesia disutradarai oleh Rere Art2tonic, keduanya pun yakin akan tayang perdana di tahun 2017.

Demikian juga proses penggarapannya, keduanya mengambil objek wisata di 3 kabupaten/kota antara lain Makassar, Pangkep, dan Maros.

loading...

Tentunya, banyak pihak, terkhusus masyarakat Makassar yang tidak sabar ingin menyaksikan film yang diwarnai dengan konflik dan ketegangan ini. Namun, Rere ART2Tonic telah merilis official trailer 1 film Silariang di YouTube sejak 6 November 2016, sementara Wisnu Adi enggan memberikan trailer film Silariang.

Dari pantauan Inspiratifnews.com, Senin (7/11/2016) ketika menyaksikan official trailer film Silariang di Hotel Pesonna Makassar, lagu bugis berjudul “Sajeng Rennu” dijadikan soundtrack film karya Rere Art2tonic, awak media dan penggiat filam yang hadir pada launching film merasakan, menjiwai, bahkan mending lagu khas bugis yang dipopulerkan Andi Tenri Ukke ini.

Dalam salah satu dialog di trailer film Silariang menceritakan sebuah peristiwa yang dianggap siri’ karena telah menghamili diluar pernikahan, dialog yang lebih banyak menggunakan dialeg Makassar.

“Katte ngaseng anjari sassi, anne daeng Mariolo, ana’na.. na hamilkangi anakku, na pabuntingi poeng sigang to maraeng. Tanggung jawabko, siri!!,” ujar salah satu pemain di film Silariang yang diperankan oleh Zulkifli Gani Ottoh.

Walau dialognya menggunakan dialeg Makassar, Namun tetap ditampilkan translate pada teks bahasa Indonesia arti dari tiap percakapan di film itu, aransemen lagu .

Pada dialog yang lainnya, menceritakan kedua orang tua dari anak yang melakukan silariang terlibat dialog saling berhadapan untuk meminta pertanggungjawaban.

Pastinya, Film Silariang adalah kisah yang sangat sakral bagi masyarakat bugis makassar, dan perlu penalaran dalam memaknai hasil karya Sineas Makassar ini. (*)

Komentar Pembaca