Sarjana Tanpa Universitas

0
56

SARJANA TANPA UNIVERSITAS

Oleh SOE FIRMAN

 

Inspiratifnews.com, Sarjana tanpa universitas, saya kira inilah topik utama yang diperbincangkan sekelompok mahasiswa yang kesehariannya menghabiskan waktu menemani anak-anak jalanan dan putus sekolah di Kota Makassar, siang itu pukul. 13.22 disalah satu warung coto makassar samping flay over, pertemuan itu tidak disengaja ketika saya mampir di warung coto tersebut untuk mengisi perut yang keroncongan, sambil menunggu pesanan coto yang saya pesan terdengar diskusi yang cukup menarik dari meja sebelah kanan saya, sekitar 12 orang mahasiswa dengan pakaian yang sedikit lusu dengan slayer yang melingkar dileher. Saya mencoba untuk menguping apa yang mereka diskusikan, sambil melahap hidangan coto makassar yang telah dipesan, satu komentar yang cukup tajam keluar dari salah seorang dari mereka “para orang tua murid disekolah-sekolah SD mulai takut melepas anak mereka untuk belajar di bangku sekolah-sekolah formal karena maraknya kekerasan guru terhadap murid, penculikan anak sekolah bahkan dibeberapa tempat anak sekolah di”cabuli” oleh gurunya sendiri” kemudian disambung lagi oleh salah seorang dari mereka dengan mata yang tajam dengan raut muka penuh dengan semangat mengatakan “yaa!! Betul itu kawan, saya kira kita perlu mengembangkan suatu metode pendidikan anak bangsa tanpa lembaga, tanpa gedung, dan tanpa kepala sekolah, yang ada hanya orang-orang yang secara mental mengerti arti kemanusiaan dan mengerti arti pendidikan, kita dapat mengajari anak negeri ini dirumahnya sendiri, di taman-taman kota, ataupun dibawah jemabtan flay over ini” (sambil menunjuk kearah jembatan flay over yang berada pas di depan warung coto tersebut).

 

Saya kemudian kaget dengan suara sapaan yang cukup akrab dari salah seorang dari mereka “Assalamualaikum Kakanda” pandangan sayapun mengarah ke sumber sapaan tersebut, ia kemudian berdiri menghampiri meja tempat saya duduk, dari ucapan sapaannya kemungkinan ini adalah salah satu anggota kader HMI, ternyata dugaan saya benar, sebut saja namanya Ahmad (samaran), ternyata anak ini adalah salah seorang peserta Basic Training di waktu saya masih aktif menjadi Master Of Training dalam forum training-training formal HMI 3 tahun lalu. Setelah ia memperkenalkan diri, sayapun kemudian teringat tentang anak ini. Ia pun  memperkenalkan saya kepada semua teman-temannya yang merupakan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi ekstra kampus yang tergabung dalam gerakan aksi sosial tersebut, sontak merekapun semua beridiri menyalami dan berjabat tangan dengan saya seperti kebiasaan aktifis menyalami orang yang lebih senior darinya. Ahmad kemudian melanjutkan ceritanya, saya tidak menyangka bahwa aktifitas sosial yang mereka lalukan ini ternyata terinspirasi dari penjelasan-penjelasan saya ketika saya aktif menyajikan salah satu bab dalam NDP HMI yaitu “Islam IPTEK”. Saya kemudian kaget dan bertanya “dalam penjelasan mana dinda?” Ahamd pun kemudian mencoba mengingatkan saya atas penjelasan-penjelasan yang pernah saya lontarkan waktu ia mengikuti Basic Training.

 

Saya kemudian teringat… saya mencoba menenangkan diri dan kembali mengingat sistematika materi tersebut… yang sebenarnya penjelasan itu saya lakukan hanya untuk memotifasi peserta bahwa dalam kuliah jangan hanya mengandalkan ilmu dari dalam kampus, tetapi mari kita berupaya mencari yang lebih dari luar kampus dengan berbagai cara-cara ilmiah…

Sayapun mulai berdiskusi dengan mereka dengan satu argumentasi awal….. “Bahwa memang benar apa yang kita pelajari hari ini di lembaga-lembaga pendidikan formal adalah warisan ilmu pengetahuan para filosof dan ilmuan di masa lalu bahkan yang hidup ribuan tahun sebelum masehi. Coba teman-teman buka kembali buku-buku sejarah pemikir di masa lalu, mulai dari Yunani Kuno hingga filosof Islam mereka adalah para filosof kaliber yang menemukan berbagai pemikiran dan ilmu pengetahuan yang kita gunakan hari ini, kalau kita bertanya apakah mereka pernah sekolah? Dimana SD, SMP, SMA dan dimana Kampusnya? pasti kita tidak menemukan lembaga pendidikan formal mereka, yang pasti mereka menjadikan alam sebagai sekolah dan guru mereka, mereka mendatangi langsung orang-orang pintar untuk belajar tanpa terhalangi oleh tembok-tembok gedung, oleh aturan-aturan yang memenjarakn ruang-ruang kemerdekaan dalam belajar dan mereka belajar lepas mencari arti kemanusiaan mereka. inilah yang saya maksud bahwa sebenarnya “hari ini kita belajar dari orang yang tidak pernah sekolah” bahkan mereka tidak kalah cerdasnya dengan kita-kita yang hari ini menempuh pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan formal. Sebut saja Thales, Soctrates, Plato, Aristoteles, Plotinus dan tokoh filosof lainnya, begitupun para filosof Islam seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan tokoh-tokoh filusuf islam lainnya. Secara umum mereka semua adalah orang-orang yang bukan lahir pendidikan formal.

 

Dan kalau kita buka buku-buku sejarah kampus pertama di dunia, maka baru sekitar tahun 737/120 H baru ada Universitas Az Zaituna yang didirikan oleh Imam ‘Ubaidillah Ibn Habhaab atas perintah Imam Hassan Ibn Nu’uman salah satun penyebar Islam pertama di Wilayah Tunisia, yang sebelumnya mereka menjadikan masji-masjid sebagai tempat mereka membagi ilmu pengetahuan, kemudian pada tahun 859 M beridir Universitas Karouine (Al Qarawiyyin) yang didirikan oleh Fatimah Al Fihri seorang putri saudagar kaya dari Tunisia, yang awalnya universitas ini merupakan bagian dari masjid, hingga pada gilirannya Universitas ini menjadi Universitas terkemuka untuk bidang ilmu alam, dan pada tahun 1957 berkembang dengan dilengkapi bidang ilmu matematika, fisika, kimia, dan bahasa asing, universitas tertua selanjutnya adalah Universitas Al Azhar yang awalnya juga merupakan sebuah Masjid yang dibangun oleh Jauhar Al Shaqali, seorang Panglima Perang pada Dinasti Fathimiyah pada tahun 970 M / 359 H, hingga menjadi Universitas Modern terkemuka dan juga mendapat pengakuan dari Napoleon Bonaparte. Hingga  pada tahun 1088 beridir sebuah kampus pertama dibelahan dunia Barat yaitu Universitas Bologna di Italia, hingga banyak ditiru oleh banyak kampus lain di daratan Eropa.

 

Sementara dalam referensi yang lain Universitas Barat pertama adalah sebuah Akademi yang didirikan pada tahun 387 SM oleh filosuf Yunani Plato, dan kemudian Aristoteles mendirikan sebuah lembaga pendidikan untuk anak dari kalangan raja dan pembesar di masa itu dengan nama Laycum.

 

Bagi plato tujuan dari pendidikan adalah, di dalam bukunya yang berjudul Republic, Palto menekankan: “Pendidikan untuk mewujudkan negara idelanya, yaitu bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui; pada pembebasan dari belenggu ketidaktuahuan dan ketidakbenaran. Pembebasan dan pembaharuan itu akan membentuk manusia yang utuh, yaitu manusia yang berhasil menggapai segala keutaman dan moralitas jiwa yang akan mengantarkannya ke ide yang tertinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan”.

Sementara Aristoteles mengaitkan tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan negara, yang harus sama pula dengan sasaran utama pembuatan dan penyusunan hukum serta harus sama pula dengan tujuan utama kosntitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia (eudaimonia)

 

Tidak terasa ternyata sudah hampir 3 jam kami duduk di warung coto ini, sayapun kemudian berpamitan dari teman-teman mahasiswa tersebut, sebelum saya beranjak dari tempat duduk saya, salah seorang yang paling junior dari mereka mengatakan “kalau begitu memungkinkan kita ini bisa sarjana tanpa Universitas” semuanya serontak tertawa hingga mengalihkan semua pandangan pelanggang di warung itu ke arah kami, sayapun kemudian menjawab bahwa sekarang kita ini hidup dizaman serba legalistik bukan lagi hidup di zaman seperti para filosof itu, oleh karenaya hal-hal yang legal sangat dibutuhkan di bangsa ini, kecuali kalau sarjana tanapa Universitas mendapatkan legalitas di negeri ini saya kira tidak ada masalah, semuanyapun kembali tertawa dan lagi-lagi mengalihkan pandangan semua orang di warung itu ke arah kami.

 

 

 

Komentar Pembaca