Storm Jonas and Kepedulian hidup*

0
19

Storm Jonas and Kepedulian hidup*
Imam Shamsi Ali

Dalam dua hari ini penduduk Amerika bagian timur (East Coast) dilanda badai salju lebat musim dingin. Entah dari mana penamaan itu. Tapi yang pasti badai salju ini dinamai Storm Jonas.

Walaupun sudah berlalu tapi dampak badai salju itu cukup terasa. Pertama karena seperti biasanya badai salju akan berdampak kepada kenyamanan hidup warga, termasuk kenyamanan mengendarai di jalan. Apalagi pasca turunnya salju itu memang menjadi tanggung jawab masing-masing warga untuk membersihkan jalanan sekitar rumah masing-masing.

Tapi dalam melihat badai salju ini justeru yang terbentuk di benak saya ada beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

Pertama, sejak akhir Desember lalu saya sering mendengarkan ada keluhan, entah itu sekedar iseng atau memang serius. Keluhan itu adalah kenapa di musim dingin ini saljunya tak turun? Hingga melewati pertengahan Januari salju memang tidak turun sama sekali. Padahal normalnya salju sudah mulai turun di akhir bulan Desember.

Tepi itulah kenyataannya. Manusia tidak akan berhenti mengeluh. (Wa khuliqal insaanu yauusa). Karena memang manusia memiliki kelemahan (dhuufa). Bahkan tergesa-gesa mengambil kesimpulan (ajuula).

Keterlambatan turunnya salju tidak dipergunakan untuk melakukan refleksi. Melakukan muhasabah tentang apa yang sedang terjadi dengan alam? Apa yang terjadi sebagai akibat “ulah tangan-tangan manusia” (bi maa kasabat aedin naas)?

Oleh karenanya Storm Jonas itu harusnya juga dipahami, tidak sekedar dari perpektif alam, tapi juga perspektif iman. Bahwa jangan-jangan itu merupakan teguran kecil agar manusia tersadarkan.

Kedua, sejujurnya Storm Jonas tidak terlalu istimewa atau berlebihan dibandingkan dengan salju yang turun pada tahun-tahun sebelumnya. Tapi apa yang sampai di persepsi manusia jauh lebih besar dan mengerikan. Realitanya Storm ini biasa-biasa saja. Bahkan saya merasa enteng membersihkannya di pagi ini.

Yang terjadi adalah bahwa manusia pintar membentuk opini dan bersandiwara. Dengan dukungan media, seolah Storm Jonas ini adalah musibah besar yang mengancam eksistensi kehidupan warga Amerika, khususnya di bagian Timur. Sampai-sampai Gubernur Cuomo (NY) mengeluarkan aturan darurat dan mengancan menangkap pengendara mobil setelah jam 2:30 siang kemarin.

Semua ini mengingatkan saya betapa bisanya manusia itu membentuk warna persepsi, tentu dengan dukungan media itu. Sebuah pengajaran agar sebelum mengambil kesimpulan perlu melakukan “tabayyun” sebagaimana yang diperintahkan Al-quran.

Ketiga, menempatkan penyelamatan hidup di prioritas tertinggi. Dan bagi saya ini sebuah pelajaran penting sebagai bahan introspeksi.

Sejak Jumat lalu, setelah diumumkan oleh badan cuaca nasional bahwa akan ada badai salju di bagian Timur Amerika, berbagai antisipasi telah dilakukan. Di berbagai tempat yang dianggap rentang berbahaya ditempatkan pengamanan khusus. Bahkan pemerintah New York misalnya mengumumkan keadaan darurat bagi warganya dan mewanti-wanti warganya untuk tetap tinggal di rumah demi keselamatan.

Artinya apa? Betapa terasa bahw keselamatan dan kehidupan manusia itu menjadi perhatian prioritas bagi mereka.

Ini mengingatkan saya kembali peristiwa Mina. Di mana dalam satu musim haji beberapa kali terjadi peristiwa yang menyebabkan ribuan manusia kehilangan hidupnya. Dan setelah itu seolah semuanya selesai karena itu semua di jalan Allah.

Padahal, umat ini meyakini bahwa dari lima “maqashidus syari’ah” (tujuan-tujuan penegakan hukum dalam Islam), hifzhul hayaah (menjaga kehidupan) adalah prioritas pertama. Bahwa anda dibenarkan makan babi (hifzud din-haram secara agama) demi menyelamatkan hidup anda dari mati kelaparan (hifzul hayaah).

Tapi itulah realitanya. Semoga badai salju di pantai Timur Amerika ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Karena sesungguhnya tidak ada yang terjadi dalam hidup tanpa makna (abatsa).

New York, 23 Januari 2016

* Refleksi badai salju sambil minum kopi

Komentar Pembaca