Telling Islam to The World – tujuh (7)

0
24

Telling Islam to the world- tujuh
* Imam Shamsi Ali

Komunikasi efektif menjadi kebutuhan dalam gerakan Telling Islam to the world. Tentu saja komunikasi yang kita maksud bukan saja komunikasi lisan. Tapi juga komunikasi budaya, sosial dan seterusnya. Intinya dalam mengkomunikasikan Islam, jangan sampai membangun stigma seolah Islam itu adalah agama antitesis kemajuan, modernitas, bahkan anti peradaban dan kehidupan.

Mengkomunikasikan Islam dengan bahasa yang menakutkan, menampilkannya sebagai jalan hidup yang “alien” (asing) dari peradaban dan kemajuan, tidak saja menjadi kendala bagi pertumbuhan dakwah. Tapi juga menjadi penyebab jauhnya manusia dari hidayah itu sendiri.

Komunikasi hati

Salah satu bentuk komunikasi dakwah efekti adalah komunikasi hati. Komunikasi yang bersumber dari “ketulusan dan kedalam hati”. Komunikasi yang memang dijiwai dan disampaikan tanpa embel-embel kepentingan apapun. Tapi murni karena memang itu dorongan hati yang paling dalam.

Komunikasi hati sesungguhnya adalah komunikasi yang sangat “powerful” (dahsyat). Komunikasi hati akan menembus relung hati pendengarnya. Dan dengannya akan mempengaruhi pori-pori tubuhnya untuk tergerak merespon secara positif hal yang dikomunikasikan.

Di sinilah rahasianya kenapa Allah memerintahkan rasulNya untuk mengajak manusia ke jalanNya “alaa bashirah” (dengan hati). Bahwa dakwah yang sejati adalah dakwah yang terkait dan terikat dengan hati nurani.

“Katakan (wahai Muhammad) bahwa inilah jalanku. Yaitu mengajak ke jalan Allah dengan hati, saya dan siapa yang mengikutku”.

Kelebihan komunikasi hati, selain murnih, apa adanya dan tanpa kepentingan, menembus jiwa yang dalam, juga akan dikawal oleh rasa hati itu sendiri. Rasa hati itu jauh dari egoisme, amarah, dan hawa nafsu. Sebaliknya akan berpengaruh positif kepada bahasa kata dan perbuatan. Karena hati adalah pusat kehidupan manusia.

Dakwah yang memanusiakan

Salah satu dilema dakwah adalah ketika menempatkan manusia pada tempat yang tidak selayaknya sebagai manusia. Bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang khusus (unik) dan mulia (karamah).

Oleh karenanya dakwah harus menempatkan manusia pada sisi kemanusiaan yang sesungguhnya. Beberapa hal yang menjunjung tinggi kemanusiaan manusia adalah ketika mereka dilihat sebagai:

Satu, makhluk positif. Islam memandang manusia dengan pandangan positif. Mulai dari dari jati diri sejak terlahir, berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa manusia terlahir dengan dosa. Islam memandang sebaliknya bahwa semua manusia terlahir dalam keadaan suci (fitrah). Dan oleh karenanya kesucian inilah yang kemudian menjadi jati dirinya yang tak akan hilang (laa tabdiila likhalqillah). Maka dakwah seharusnya menempatkan manusia pada posisi positif, apapun keadaannya. Bahwa semua manusia memiliki “jati diri” yang perlu kembali dibangun. Bukan dikecilkan apalagi diiingkari.

Kedua, makhluk mulia. Islam mengajarkan bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan dimuliakan: “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam”. Oleh karenanya dakwah harus menjaga kemuliaan itu. Bahwa selama dia manusia, kemuliaan itu tetap menjadi haknya. Dan oleh karenanya dakwah perlu dibangun di atas “pemuliaan manusia” itu. Bukan merendahkan, menghina, apalagi merampas kemuliaan darinya.

Ketiga, makhluk bebas. Kebebasan manusia dalam pandangan Islam menjadi sangat mendasar. Substansi dasar dari “laa ilaaha illa Allah” adalah membenaskan manusia dari berbabagi penuhanan hidup kepada penuhanan tunggal, yaitu Allah semata. Maka dakwah yang dijalankan adalah dakwah yang menjunjung tinggi kebebasan. Urgensi ini ditekankan oleh Al-quran: “tiada paksaan dalam beragama”.

Keempat, kesetaraan. Equalitas atau kesetaraan adalah bagian dari kemanusiaan manusia. Bahwa semua manusia setara di hadapan Pencipta langit dan bumi. Termasuk di dalamnya kesetaraan dalam iman dan Islam. Bahwa semua yang mengimani kebenaran itu memiliki posisi yang sama. Maka dakwah juga harus menempatkan manusia pada posisi yanh setara. Dakwah tidak memilah-milah manusia berdasarkan ras, suku, bangsa, atau warna kulit. Semua punya hak dan peluang sama di hadapan dakwah.

Intinya adalah dakwah itu menjunjung tinggi kemanusiaan manusia. Dakwah bukan datang untuk merendahkan, menghina, dan memposisikan manusia pada posisi buruk. Justeru Islam datang dengan satu semangat. Yaitu mengembalikan manusia pada posisi kemanusiaannya yang hakiki.

Dan ini pula tujuan gerakan Telling Islam to the world. Yaitu membawa Islam ke seluruh penjuru dunia dalam rangka memanusiakan kembali manusia. Dengan Islam manusia akan mampu merebut kembali kemanusiannya yang bercirikan fitrah (kesucian) karamah (kemuliaan) hurriyah (kebebasan) dan musaawaah (kesetaraan). Semoga

Bersambung

* Presiden Nusantara Foundation

Komentar Pembaca