Telling Islam to the World

0
36

Telling Islam to the world- two

(Serukan Islam Kepada Dunia – 2)
Oleh : Imam Shamsi Ali*

Kenyataan bahwa di balik berbagai rintangan dan tantangannya perkembangan Islam tidak akan bisa terbendung lagi. Oleh karenanya di tengah badai Islamophobia dan sentimen anti Islam di dunia, khususnya di dunia Barat, Islam tetap eksis sebagai agama dengan perkembangan terpesat.

Di Amerika misalnya pertumbuhan Islam sejak terjadinya serangan terorisme 9/11 tahun 2001 silam naik naik empat kali lipat dibandingkan sebelum peristiwa itu. Ada sebagian estimasi mengatakan bahwa konversi atau non Muslim Amerika yang masuk ke agama Islam diperkirakan mencapai 20.000 hingga 40.000 pertahun.

Ambil sebagai contoh bagaimana perkembangan Islam di kota New York pasca 9/11. Sebelumnya kita kenal jika New York adalah jantung kapitalisme dunia, kota atau ibukotanya dunia. Di kota inilah berdiri kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, pusat transaksi keuangan dunia (Wall Street), dan pusat bank-bank dunia, termasuk Citibank, Chase, dll.

Sejak terjadinya serangan terorisme ke jantung dunia itu, yang awalnya diramalkan sebagai kuburan Islam, ternyata Islam berkembang tanpa terhalangi. Kasus-kasus kekerasan dan diskriminasi yang terjadi bahkan seringkali menjadi pemacu laju perkembangan Islam itu sendiri.

Satu cerita favorite saya sebagai ilustrasi bagaimana realita Islam pasca 9/11 itu adalah masuknya Islam Bob atau biasa dipanggil Bobby.

Empat hari setelah serangan WTC saya diundang oleh kantor walikota untuk membaca doa atas nama komunitas Muslim di sebuah acara di bagian bawah kota Manhattan (Downtown). Setelah giliran saya membaca doa tiba-tiba saya didatangi oleh seorang berkulit putih, berambut pirang, dan dengan baju kaos. Sambil mengulurkan tangan beliau berbisik: “I am a Muslim too”.

Terus terang mungkin karena kecurigaan saat itu begitu tinggi, saya juga menjadi curiga. Apa benar dia Muslim? Atau hanya berpura-pura untuk mendapatkan akses dan mengikuti saya?

Setelah acara selesai saya tarik Bob ke samping ruangan dan bertanya: “when did you become a Muslim”?

Saya semakin terkejut dengan jawabannya: “just yesterday”.

Saya masih setengah percaya. Lalu saya tanya: “what really attract you to this religion?” Maksud saya dalam suasana Islam dibenci, dicurigai, dianggap sumber terorisme, kok bisa tertarik untuk masuk Islam?

Bob kemudian menceritakan bahwa empat hari lalu di saat terjadi serangan itu dia mendengar salah seorang penyiar CNN mengatakan: “kalau anda mau tahu inspirasi serangan ini, bacalah the Koran (Al-quran)”.

Dia kemudian mencari dan membeli Al-Qur’an untuk satu tujuan: “to find where terror is located in the Quran”.

Alhamdulillah, Allah berkehendak lain. Selama dua hari mencari kata terror dalam Al-quran itu justru dalam bahasa beliau: “semakin saya cari terror dalam Al-Qur’an, justru saya semakin menemukan mutiara-mutiara hidup (jewels of life)”.

Dan itu pula yang menjadikan Bobby tersungkur bersujud di hadapan kebenaran Ilahi. Allahu Akbar!

Ikut membentuk warna dunia

Apa yang sedang kita saksikan di hadapan mata adalah bagian dari hiruk pikuk dunia global dalam pertarungan. Peperangan yang sesungguhnya bukan dengan bom atau drones lagi. Bom atau drones hanya bagian kecil dari peperangan yang sedang kita hadapi. Inilah sesungguhnya yang digambarkan di Surah As-Shof: “sesungguhnya Allah mencintai mereka yang berperang di jalanNya dalam kesatuan baris yang kokoh”.

Peperangan yang terjadi sekarang adalah peperangan untuk memenangkan “pengaruh” (kekuasaan) dalam segala bidang, termasuk dalam imej dan persepsi. Oleh karena Islam itu indah dan cantik, maka yang diusahakan semaksimal kemampuan mereka adalah merusak citranya. Dan cara satu-satunya yang bisa dilakukan adalah melalui “realita” pengikutnya di lapangan.

Maksud saya, salah satu peperangan terberat ummat saat ini adalah peperangan imej dan persepsi. Dan dalam dunia keterbukaan, khususnya media, hanya satu hal yang bisa dilakukan. Yaitu mengambil bagian dalam peperangan itu dan siap berkompetisi dan memenangkannya.

Kembali ke gerakan “Telling Islam to the world” sesungguhnya dibentuk sebagai bagian dari itikad dan komitmen, atau mungkin juga impian besar untuk mengambil bagian dalam peperangan itu. Peperangan yang akan menentukan pemenangnya dalam tahun-tahun mendatang. Siapa yang akan membentuk wajah dunia kita ke depan.

Dalam suasana Timur Tengah yang semakin kelam, larut dalam konflik internal, baik sesama suku maupun sesama iman, dunia telah kehilangan harapan untuk bangkitnya Islam dari belahan dunia itu.

Di sinilah sesungguhnya Indonesia kembali memiliki momentum besar untuk kedua kalinya. Momentum pertama adalah ketika terjadi 9/11. Dan momentum kedua adalah kali ini. Untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara besar, disegani, dan mampu memainkan peranan dalam mengendalikan dunia, minimal dunia Islam.

Indonesia lebih khusus lagi sebagai negara Muslim terbesar di dunia bisa mengambil langkah-langkah penyelamatan untuk menyelamatkan dunia Islam dari kehancurannya. Dan semua itu dapat dimulai dengan mengambil peran aktif dalam membentuk wajah Islam yang sesungguhnya. Yaitu wajah Islam yang tidak menakutkan, bahkan sebaliknya wajah Islam yang menjadi atraksi bagi dunia Barat dan peradaban manusia.

Indonesia masih memiliki kredibilitas dan nama baik untuk menklaim bahwa Islam yang sesungguhnya bukanlah ancaman bagi orang lain dan peradaban. Justru Islam adalah partner dalam mewujudkan dunia dan membangun peradaban yang lebih baik bagi kehidupan manusia.

Islam yang seperti itu tidak saja diperlukan bagi perkembangan Islam itu sendiri. Tapi memang itulah Islam yang didambakan manusia. Karena Islam yang berwajah cantik itu memang datang tidak ekslusif untuk kelompok manusia tertentu. Tapi untuk semua manusia dan alam semesta, bahkan yang tidak mengimaninya sekalipun.

Itulah Islam dengan karakternya yang “rahmatan lil-alamin”.

Dan itu pulalah cita-cita dan impian besar gerakan “Telling Islam to the world”. Gerakan ini dimotori bersama oleh Nusantara Foundation, Dompet Dhuafa, Urban Syiar Project, didukung oleh Elhijab (Elzatta), DAQU, ICM, FKCA dan lain-lain. Semoga semua tergerak dan melihat gerakan ini sebagai peluang (opportunity) di tengah-tengah tantangan besar (challenges) yang umat sedang hadapi. Amin!

New York, 5 Januari 2016

* Presiden Nusantara Foundation, USA

Komentar Pembaca