Virus Sosial : LGBT dan Valentine’s Day

0
130

Virus Sosial : LGBT dan Valentine’s Day
Oleh : Abdul Jabbar A*

Tidak dapat dipungkiri bahwa maraknya fenomena LGBT sangat terkait dengan trend negara-negara liberal yang memberikan pengakuan dan tempat bagi penyandang LGBT di tengah-tengah masyarakat. LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) dianggap sebagai bagian life style masyarakat modern yang menganggap pandangan heteroseksualitas sebagai konservatif dan tidak berlaku bagi semua orang. Bahkan, ada beberapa negara yang melegalkan perkawinan sejenis dan menjadi surga bagi LGBT untuk menunjukan eksistensi sosialnya, sekaligus menyalurkan hasrat seksualnya seperti di negara Belanda, Belgia, Spanyol, Swedia. Kebebasan dan hak asasi kemudian menjadi dalih atas kebijakan tersebut. Hingga saat ini, masih terjadi pergolakan di negara-negara Barat, terutama kelompok konservatif yang memegang teguh nilai-nilai keluarga dan teologis yang secara gigih menentang praktek penyimpangan seksual tersebut. Lihat saja sikap pemimpin Gereja Katolik Perancis, Kardinal Phillipe Barbarin yang menyebut bahwa legalisasi atas pernikahan sejenis akan meruntuhkan tatanan hidup masyarakat.
Secara gencar para penyandang LGBT ini mensosialisasikan diri dan nilai-nilai seksualitas yang mereka anut dengan mengambil momentum kebebasan yang demikian terbuka. Industri budaya pop, terutama industri kreatif di bidang entertainment seperti musik, sinetron dan film menjadi alat yang strategis untuk menyebarkan cara pandang, gaya perilaku dan eksistensinya pada publik, bahkan hampir seluruh lapisan usia dan strata sosial. Lemahnya mekanisme sensor dan kritisisme publik menjadikan proses penetrasi nilai-nilai LGBT menjadi semakin efektif, sistematis dan massif. Targetnya adalah terciptanya proses habituasi (pembiasaan) dan adaptasi (penyesuaian) bagi masyarakat terhadap LGBT, sehingga akhirnya masyarakat akan menerima fenomena penyimpangan orientasi seksual yang jelas-jelas bertentangan dengan norma agama dan nilai-nilai sosial bangsa sebagai kelaziman, terbiasa dan bahkan tersugesti untuk masuk dalam kondisi yang mereka sebut sebagai hak asasi yang tergantung pada pilihan individu masing-masing.
Selain memanfaatkan media industri hiburan, LGBT bahkan telah memasuki arena politik dengan jaringan loby dan negosiasi yang kuat. Semakin banyaknya negara yang melegalisasi pernikahan sejenis dan para politisi yang secara terbuka menunjukan simpati dan dukungan politiknya. Setidaknya sejumlah pemimpin negara besar di dunia menunjukan sikap akomodatif terhadap kaum gay dan lesbi, seperti Perdana Menteri Inggris, David Cameron, Barrack Obama, Francois Hollande. Dukungan tersebut telah membawa dunia dalam ambang bahaya akibat agresi dalam skala yang massif terhadap nilai-nilai keluarga, moral publik, dan masa depan dunia.
Di Indonesia sendiri, memang saat ini belum ada politisi yang berani secara terbuka mendukung praktek penyimpangan seksual ini. Namun tidak menutup kemungkinan ketika penetrasi nilai dan pengakuan sosial kaum LGBT ini telah massif, akan merubah haluan para politisi yang memang cenderung melihat kesempatan berdasarkan kalkulasi potensi dukungan suara. Kaum LGBT kemudian semakin berani muncul di tempat publik dengan mempertontonkan identitasnya yang kini tidak lagi dianggap tabu. Legitimasi sosial muncul dengan pembelaan ilmiah dan teologis secara apriori guna memperkuat klaim tentang eksistensi maupun tujuan-tujuan sosial mereka. Situasi itulah yang kemudian membuat LGBT menyebar demikian pesat sebagai epidemi sosial. Tidak lagi hanya fenomena kota besar, tetapi hampir diseluruh wilayah dan lapis sosial.
Memang LGBT itu bukan merupakan kejahatan, tetapi menjadi virus sosial ditengah-tengah masyarakat sehingga memiliki potensi menghasilkan kejahatan seperti kekerasan seksual, penyebaran penyakit seksual dan agresi terhadap nilai-nilai publik. Namun demikian, kita harus bijak karena penyandang LGBT bisa saja merupakan korban maupun pelaku. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa LGBT bisa muncul akibat pengalaman traumatik (korban kekerasan seksual) maupun faktor genetik yang mempengaruhi struktur kromosom yang menunjukan jenis kelamin. Namun demikian, LGBT juga dapat muncul sebagai dampak dari interaksi sosial yang keliru sehingga ikut mengalami penyimpangan seksual (sosial disease). Hal itu menempatkan bahwa penyandang LGBT bisa saja merupakan pelaku sekaligus korban yang kedua-duanya perlu mendapat perhatian yang tepat agar mereka bisa menyesuaikan dan mengintegrasikan diri dalam masyarakat yang normal. Jikapun hal itu tidak mungkin, maka setidaknya mereka tidak akan menjadi ancaman sosial yang membahayakan.
Sama halnya dengan perayaan hari Valentine’s Day atau hari kasih sayang semakin familiar di kalangan remaja dan pemuda di Indonesia. Budaya asal Romawi ini tidak jelas kapan mulai masuk ke Indonesia. Namun berbagai perayaan Valentine’s Day setiap tanggal 14 Februari di kalangan remaja, seperti sekadar memberikan ucapan selamat, bertukar hadiah cokelat, hingga seks bebas menunjukkan bahwa mereka semakin terbiasa dengan budaya ini.
Generasi muda yang cenderung labil merupakan sasaran empuk bagi derasnya budaya barat (westem culture), lebih-lebih dalam era globalisasi seperti saat ini. Dampak nyata westem culture tersebut dapat kita lihat pada lingkungan sekitar kita. Perilaku amoral tersebut juga menimbulkan dampak derivatif. Yaitu, munculnya berbagai macam penyakit kelamin, meningkatnya angka aborsi, dan meluasnya wabah HIV/AIDS. Sekadar gambaran saja, angka yang cukup memprihatinkan dirilis BKKBN beberapa waktu lalu. Bahwa pada 2015 sebanyak 2,3 juta remaja pemah melakukan aborsi. Adapun catatan Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, setiap harinya terjadi sekitar 2.000 kasus aborsi pada remaja.
Data tersebut menjadi indikasi sekaligus momentum untuk melakukan perbaikan dan perlawanan terhadap berbagai penyakit sosial yang sudah mewabah. Melakukan pencegahan efektif melalui penyadaran kepada generasi muda terhadap budaya barat yang destruktif. Salah satunya adalah mewaspadai perayaan valentine’s day yang semaian akrab di kalangan remaja. Jika budaya yang memfasilitasi praktik pergaulan bebas dibiarkan, maka atas nama hak asasi manusia, budaya-budaya amoral lainnya akan bermunculan seperti homoseksual, transeksual, dan perzinahan yang terang-terangan. Jika itu terjadi, dipastikan masa depan bangsa kita akan semakin terpuruk karena generasinya sudah terinfeksi virus sosial yang merusak. Para intelektual, ulama, dan pemimpin masyarakat akan semakin kesulitan dalam melakukan pencegahan. Mewabahnya virus sosial tersebut sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan At-Tabrani, Rasulullah menegaskan, “Jika zina dan riba tampak menonjol (tersebar luas) di suatu wilayah, maka sungguh mereka telah menghalalkan atas diri mereka sendiri azab Allah”. Karena itu harus ada revolusi moral, pencegahan, dan perlawanan yang maksimal.
Merespon maraknya kejahatan seksual dan pelanggaran norma sosial lainnya, terutama terkait dengan LGBT dan perayaan Valentine’s Day, masyarakat harus mampu mengembangkan kewaspadaan sosialnya. Begitupula negara tidak bisa lepas tangan dan berlindung di balik penghargaan terhadap hak asasi warga negara. Negara memiliki kewajiban untuk menjaga nilai-nilai dan standar moral yang dianut oleh publik mayoritas. Berbagai tontonan yang tidak layak dan melegitimasi perilaku penyimpangan seksual harus dievaluasi kembali. Begitupula sikap tegas dalam merespon tuntutan pengakuan seksualitas dan perkawinan sejenis. Negara tidak boleh melegalkan agresi terhadap moralitas dan nilai-nilai publik. Tanpa standar moral dan menjaga nilai-nilai yang diyakini publik, niscaya bangsa itu akan kehilangan generasi penerus bagi masa depannya. Penyandang LGBT dan Perayaan Valentine’s Day jika tidak diwaspadai akan menjadi virus sosial dimasyarakat dan predator seksual bagi orang normal dan merusak masa depan para pewaris masa depan bangsa.

*Ketua DPD IMM Sulawesi Selatan Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat/ Mahasiswa Pasca Sarjana APB/ PEMDA Universitas Hasanuddin Makassar

Komentar Pembaca