Dialektika Ilmu Teologi, Sosiologi dan Psikologi

1
71

Dialektika Ilmu Teologi, Sosiologi dan Psikologi.
Oleh: Agusliadi*

Inspiratifnews.com-Opini “Kalimat Tayibah” (Laa Ilaaha Illallah) merupakan proklamasi kemerdekaan martabat kemanusiaan yang nilainya jauh melebihi Declaration of Human Right yang diagungkan negeri Barat.

Apapun yang dilakukan oleh Manusia pada dasarnya motifnya ada tiga yaitu TO HAVE (ingin memiliki sesuatu), terutama dalam bentuk materi, TO BE (ingin menjadi sesuatu), terkenal, menjadi populer dan TO VALENCE (ingin bermanfaat). To Valence adalah motif dan sekaligus motivasi kerja/berperilaku/bersikap yang paling ideal yang perlu diutamakan dan dikedepankan, hanya saja hal itu dapat tercapai hanya jika “Kalimat Tayibah” menempati ruang utama dalam diri kita agar tuhan – tuhan (t kecil) palsu lainnya, ekstasi harta, ekstasi popularitas, ekstasi citra dapat direduksi dan hilang dalam diri.

Posisi manusia dalam kehidupan ini sejak lahir berada dalam empat level yakni dependen I (tergantung penuh pada manusia), independen (mandiri), interdependen (bermitra) dan dependen II (tergantung penuh pada Allah). posisi manusia dapat bergeser dari dependen I ke independen hanya jika manusianya melakukan intrapersonal relation (inner journey/penelusuran ke dalam jiwa), menggeser posisi independen ke interdependen dapat terwujud jika diawali interpersonal relation dengan penguatan keilmuan, skill, penguatan prinsip hidup (salah satunya menyandarkan diri pada prinsip Bintang/Kalimat Tayibah) dan mereduksi ekstasi TO HAVE. Sedangkan untuk menggeser posisi manusia dari interdependen ke dependen II (tergantung penuh kepada Allah) dapat terwujud hanya jika manusianya terlebih dahulu melakukan God Relation terutama selalu menghadirkan kalimat Tayibah dalam diri, menjadikan Allah satu -satunya sandaran hidup, tempat bergantung, sebaik -baik penolong dan pelindung.

Menghadirkan Allah dalam kehidupan, jika merujuk pada ilmu habits maka pertamau harus diawali dengan practice (practice to make right) agar cara menghadirkan Allah pada diri sesuai tuntunan. langkah selanjutnya dengan repetition (repetition to make perfect), salah satu kesempurnaan dari sebuah proses adalah ketika telah menjadi kebiasaan dan selanjutnya menjadi karakter.

Shalat lima kali sehari semalam, pada dasarnya mengandung repetition, pengulangan “Kalimat Tayibah” Laa Ilaaha Illallah sebanyak 9 kali (Subuh 1 kali, Dhuhur 2 kali, Ashar 2 kali, Maghrib 2 kali dan Isya 2 kali), dalam psikologi pengulangan ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang berefek pada pembentukan karakter dan bermuara pada penentuan nasib. Alur, Pikiran – kata – tindakan – kebiasaan – karakter – nasib.

Dalam shalat pula, sesungguhnya kita dapat menemukan Dialetika Ilmu Teologi, Sosiologi dan Psikologi. Jika seseorang masih mengalami ekstasi materi, harta, ekstasi popularitas dan citra pada dasarnya masih perlu introspeksi terhadap SHALAT yang dilaksanakan selama ini. (*)

*Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Bantaeng

Komentar Pembaca