IPM Sulsel Kutuk Pelaku Pemukulan Guru

0
88

Inspiratifnews.com-Makassar Pendikan merupakan wadah pencerdasan generasi bangsa. Melalui suara-suara guru, ilmu pengetahuan dapat diserap dan menjadi bekal dimasa yang akan datang. Namun, sayangnya geseran moral telah mengubah wajah pendidikan menjadi menakutkan jika mendengar kasus-kasus yang terjadi dilingkup pendidikan.

Guru di laporkan dan dicobloskan ke penjara karena mencubit atau memberi hukuman kepada siswa. Hari ini pendidikan kembali direlung nestapa betapa tidak seorang guru di SMK 2 Makassar dihajar oleh orang tua Siswa lantaran anaknya di dihukum, dengan seketika darah pun bersimbah di kemeja putihnya.

Memandang kejadian ini tentunya, mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan salah satunya adalah Pimpinan Wilayah IKatan Pelajar Muhammadiya (PW IPM) Sulsel yang konsen terhadap perkembangan pelajar.

Rahmawati Idrus selaku ketua Umum PW IPM Sulsel sangat menyangkan atas kejadian tersebut. Dirinya mengatakan bahwa perilaku pelajar benar-benar telah berada di ujung nadir peradaban.

“Mengetahui diri kita sebagai pelajar, tentunya kita tahu apa-apa yang menjadi kewajibn kita sebagai peserta didik. Dihukum karena tidak mengerjakan tugas, saya pikir itu adalah hal yang sangat wajar. Apa lagi jika hanya ditegur. Rasanya pelajar sudah terlalu letoy dengan embel-embel komisi perlindungan anak” tuturnya kepada inspiratifnews.com, Rabu, (10/8/2016).

Menurut Rahma, perlindungan terhadap pelajar seringkali disalahartikan yang berakhir di meja hukum, namun pandangannya sebagai perlindungan adalah bagaimana pelajar dibekali dengan pengetahuan yang seimbang antara pengetahuan agama yang baik, pendidikan yang merata, hak-hak pemenuhan fasilitas belajar mengajar memadai, dan tentunya terus melakukan pemberdayaan terhadap potensi-potensi pelajar yang berprestasi sehingga dunia pendidikan benar-benar tercapai sesuai cita-cita negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Saya mengutuk keras perilaku orang tua murid, sesaya-sayangnya kita terhadap anak saya pikir ini bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa harus dengan tindakan pemukulan. Karena kita tahu, bahwa asas hukum Equality before the law itu berlaku, sehingga kesalahan apapun, dan apapun profesinya jika perbuatannya dianggap merugikan maka berhak untuk diproses secara impersial” tegas Rahma. (uc2)

Komentar Pembaca