Memaknai Kembali Kampus Sebagai Produsen “Manusia Angka”

0
158

Memaknai Kembali Kampus Sebagai Produsen “Manusia Angka

(Refleksi 2 Mei Hari Pendidikan Nasional)

Oleh: Abdul Gafur Ibrahim*

Ing Ngarso Sung Tulodo,

Ing Madyo Mangun Karso,

Tut Wuri Handayani.

-Ki Hadjar Dewanmtara-

Inspiratifnews.com-Opini (…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…)

Penggalan kalimat di atas adalah isi yang termaktub dalam naskah pembukaan UUD 1945 yang menjadi kontitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena menjadi konstitusi maka dapat dimaknai bahwa segala akivitas bernegara kita berangkat dari nilai-nilai yang terkandung dalam naskah konstitusi tersebut. Jika kita mencoba mencermati isi kalimat diatas maka kita dapat memahami secara sederhana bahwa tujuan bernegara kita ada pada paragraf tersebut yang menjadi satu kesatuan yang utuh. Oleh kerena itu Negara hadir untuk menerjemahkan secara praksis bagaimana tujuan bernegara tercapai, salah satu tafsiran yang kemudian dijalankan untuk mencapai tujuan bernegara kita adalah dengan menghadirkan sistem pendidikan. Sementara itu dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) , didefinisikan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dalil di atas memperlihatkan secara jelas untuk apa pendidikan dihadirkan, akan tetapi proses dan aktivitas dunia pendidikan kita hari ini jauh dari apa yang tertulis dalam teks-teks konstitusi kita. Di mana intstuisi pendidikan dalam proyeksi idealnya memegang peranan penting dalam membangun sumber daya manusia (mencerdaskan kehidupan bangsa) demi terwujudnya kesejateraan masyarakat, yang artinya proses penyelenggaraan pendidikan di arahkan pada lahirnya manusia Indonesia yang memiliki kesadaran kritis dengan memaksimalkan segala potensi yang dimilkinya yang pada akhirnya melahirlan insan yang dapat berkonstribusi dalam kehidupan masyarakat untuk membangun peradaban secara kolektif kea rah perubahan yang lebih baik. Untuk itu pendidikan memiliki tugan dan tanggung jawab sebagaimana Giroux menjelaskan terkait tugas pendidikan yaitu tidak hanya membekali lulusannya dengan aneka keterampilan memasuki dunia kerja. Akan tetapi menjadikan manusia-manusia ini mampu memperjuangkan kehidupan baru dengan kontribusi nyata dalam melawan hegemoni ideologi dominan.

Namun apa yang terjadi dalam realitas masyarakat kita sebuah anomali yang demikian jelas dan terang, dimana dewasa ini kita diperhadapkan pada masyarakat yang memiliki pola pikir yang pragmatis dan krisis nalar kritis yang muncul adalah model manusia yang bercirikan idividualistik yang bermental pekerja (bukan pemikir), minim idelaisme dengan orientasi memikirkan diri sendiri dan celakanya pasrah terhadap berbagai patologi sosial yang terjadi disekitar mereka, ini tentu tidak begitu saja hadir dalam kehidupan masyarakat dan tidak murni kesalahan masyarakat akan tetapi kondisi ini lahir dari proses pendidikan yang diciptakan oleh Negara. Sekalipun ada harapan besar pasca 1998 ketika rezim orde baru berhasil ditumbangkan setelah sekian dekade sistem pendidikan kita terkungkung kebijakan Orde Baru yang lebih terobsesi menjadikan pendidikan (universitas) sebagai alat politik pembangunan.

Model pendidikan yang hadir justeru bertentangan dengan cita-cita bangsa yang temaktub dalam berbagai teks-teks UU yang diproduksi Negara, sepertinya lembaga-lembaga pendidikan mulai dari sekolah hingga universitas terdesian seperti korporasi dimana berfungsi sebagai alat produksi tenaga kerja dimana peserta didik layaknya bahan baku yang kemudian dicipta sedemikian rupa untuk menjadi patuh dan taat dan kehilangan kepekaan terhadap realitas yang ada disekitarnya, yang lebih parah adalah lembaga pendidikan kita layaknya rumah bordil yang berebut pelanggan dengan berbagai menu yang ditawarkan dimana semakin berkualitas dengan bodi yang mulus maka harga akan semakin mahal. Pada level organisasi, universitas telah berubah menjadi institusi, seperti yang dimaksudkan antropolog pendidikan Cris Shore (2010) dengan istilah Schizophrenic university, dimana institusi dibebani bermacam tujuan delusif dan ambisi yang ilusif serta tidak realistik. Sementara pada level individu (akademia dan staf administratif) institusi menjelma menjadi ruang penyiksaan, eksploitasi, disiplinisasi, pengkerdilan kebebasan layaknya model penjara panoptic pernah dijelaskan oleh pemikir Inggris abad pertengahan Jeremy Bentham yang lantas diadopsi oleh Michel Foucault dalam teorinya yang masyhur Discipline and Punish (1975)

Pendidikan seperti itulah yang hadir dalam sistem pendidikan kita dan menjadi ritual hampir semua universitas di Indonesia, Bill Readings menyebut bahwa universitas kontemporer terah beubah secara subtansial dari konsep Immanuel Kant pada masa pencerahan dengan istilah university for reason atau pandangan Van Humboldt tentang university for culture universitas hari ini telah menjelma menjadi kai tangan kapitalisme global atau dalam pengertian Marilyn Strathern menegaskan bahwa universitas yang awalnya hadir untuk mengabdi untuk pengetahuan dan kemajuan peradaban telah lenyap dan mati tergantikan dengan model university for beureaucratic excellence yang mengadopsi model New Public Management ataupun New Public Service dalam perspektif kajian ilmu adminitrasi Negara yang dipenuhi praktik pengawasan dan pendisiplinan, kuantifikasi atas kualifikasi dan kriteria, reward dan punishment model yang semuanya berorientasi pada kepentingan modal ekonomi.

Kondisi universitas (dunia pendidikan) hari ini yang memproduksi “manusia angka” tidak terlepas dari kelompok yang dikenal dengan Vienna Circle yang mucul di Jerman sebagai salah satu gerakan intelektual yang mengusung spririt bahwa ilmu pengetahuan yang bebas nilia (value free) mereka memiliki pandangan bahwa suatu pengetahuan dapat dikatakan sahih apabila bisa terukur, teramati, dan terverifikasi sementara pengetahuan yang berdasasrkan asusmi-asumsi non-epistemik seperti moral, religiusitas, budaya, sosial, kemanusiaan adalah pengetahuan yang tidak objektif dan hanya omong kosong. Sistem pendidikan kita sedikit banyak telah mengadopsi spirit yang sama. Dari bangku sekolah (SD, SMP, SMA) hingga bangku kuliah (Universitas), peserta didik selalu diukur dengan angka, celakanya terkadang penilaian tersebut sering dianggap sebagai ukuran satu-satunya dan paling absah, kondisi inilah yang kenudian banyak menggiring mahasiswa melakukan apa saja termasuk mengorbankan nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan untuk mendapatkan sebuah angka. Manusia angka ini telah kehilangan “daya-daya abstrak imajinatif-kreatif” dalam istilah Karlina Supelli dan yang lebih mengerikan dari manusia angka adalah mereka tidak memiliki rasa simpati dan sensivitas terhadapa berbagai masalah kemanusiaan dengan polarisasi seperti itulah maka kampus telah menjema menjadi produsen manusia angka. Yang artinya kampus hari telah gagal dan menghianati apa yang menjadi amanat dan cita-cita bernegara sebagaimana yang telah dipaparkan diawal tulisan ini.

Instutisi pendidikan hari ini terlebih pada perguruan tinggi telah membangun pola pikir pragmatis dimulai dengan hasutan focus kuliah dan lulus dengan IPK tinggi, bahkan dipahamkan bahwa melakukan demonstrasi merupakan hal yang buruk dan tidak berpendidikan atau dengan menggunakan intervensi ancaman nilai hingga Drop Out dengan propaganda demikian yang dilakukan kampus maka dapat dipastikan akan membungkam nalar kritis mahasiswa.

Lalu apa yang harus dilakakan dengan kondisi tesebut, dimana masyarakat telah memilki karakter yang pragmatis seperti halnya menganggap bahwa ijazah adakah surat sakti yang akan memberikan jaminan hidup dan sebagainya. Kembali mengingat pesan bapak pendidikan yang disematkan Negara kepada Ki Hadjar Dewantara ”mardika iku jarwanya, nora mung lepas ing pangreh, nging uga kuwat kuwasa, amandhireng pribadi,..” yang jika diterjemahkan adalah kemerdekaan fisik itu penting, tetapi jauh lebih penting kemerdekaan jiwa. Memerdekakan jiwa tugas pendidikan tiada akhir. Untuk itu universitas harus kembali pada koridornya meminjam istilah kontroversial yang pernah dilontarkan oleh Rocky Gerung soal kitab suci adalah fiksi namun adanya pernyataan yang sangat menarik bahwa bahwa untuk menjaga harapan agar tetap ada maka diperlukan imajinasi. Yang dibutuhkan adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang mimiliki kesadaran kritis dan reflektif sebagaimana disampaikan oleh Paulo Freire bahwa pendidikan bertujuan untuk kembali ke masyarakat dan membantu mereka untuk memasuki proses pembentukan sejarahnya secara kritis. Yang dicitakan oleh Freire adalah pendidikan yang reflektif terhadap diri maupun terhadap struktur sosial politik dan membentuk sebuah masyarakat yang demokratis yang sadar ketika kebutuhan meraka telah ditunggangi oleh kepentingan elit dan melampaui retorika potitis yang sekadar mencipta retorika toleransi yang dibangun di atas pondasi solidaritas semu. Kita harus kembali pada landasan filosofis pendidikan Indonesia yang berakar dari gagasan progresif Ki Hadjar Dewantara, kita juga harus berkiblat pada apa yang telah diprektekkan oleh Ahmad Dahlan yang menjadikan pendidikan sebagai sebuah alat untuk membebaskan dan mencipta peradaban yang berkemanjuan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja,
ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

WS. Rendra ; Sajak Seonggok Jagung di Kamar

*Ketua DPD IMM Sulawesi-Selatan Periode 2018-2020 Bidang Hikmah

Komentar Pembaca