Musang Berjanggut, Sharifah Digoda Pejabat Kerajaan Melayu

0
243

Inspiratifnews.com – Makassar, Seniman dan Penggiat Teater di Makassar kembali mempertunjukkan karya – karyanya di Gedung Society de Harmonie selama 3 hari, 23-25 Oktober. Pementasan ini dijadwalkan 2 kali sehari yakni pukul 16.00 wita dan 19.30 wita.

Sinerji Teater, mementaskan karya berjudul Musang Berjanggut merupakan karya naskah klasik melayu yang sudah dimainkan dalam berbagai versi sejak puluhan tahun lalu.

“Naskah Musang Berjanggut akan dimainkan dengan gaya klasik sebagai pewarna baru dalam sajian pertunjukan seni di kota Makassar,” kata sutradara pertunjukan, Yudhistira Sukatanya.

Foto : Ishadi
Foto : Ishadi

Pertunjukan Musang Berjanggut, dinilai terhibur penonton yang hadir, gelak tawa bergemuruh saat Datuk Bendahara dan Perdana Menteri memasuki panggung, keduanya mempunyai keunikan dalam menghibur penonton.

Perdana Menteri, ketika mengetahui Datuk Bendahara diminta oleh Sharifah untuk berdiri dan berlaga sebagai patung sambil memegang mangkuk berisi buah – buahan, dikarenakan Perdana Menteri mempunyai riwayat penyakit Gatal-gatal.

Foto : Ishadi
Foto : Ishadi

Dan, begitu Datuk Bendahara memasuki kediaman Sharifah. Perdana Menteri pun berdiri jadi patung, kegagapan Datuk Bendahara membuat dirinya sulit mengemukakan perasaan pada sharifah, iringan mimik, postur tubuh dan nada gagap inilah mengundang tawa penonton yang hadir.

Singkat cerita, dalam karya yang ditulis Djamalul Abidin Ass ini menceritakan tentang seorang istri dari panglima kerajaan bernama Cil Awang, Sharifah mampu meluluhkan para datu atau pejabat kerajaan.

Bahkan, bukan saja Datu Bendahara atau perdana menteri yang diluluhkan oleh kecantikan Sharifah. Tapi, sang Raja pun ikut terluluh oleh mahligai Sharifah yang ditinggal sementara suaminya saat pergi berperang.

Para pemain dalam teater Melayu ini adalah seniman dan penulis senior. Seperti, Soeprapto Budisantoso sebagai Tuanku Raja, Ishalim sebagai Datuk Hakim, dan pemain film Athirah, Irma Jabbar sebagai Sharifah.

Goenawan Monoharto sebagai Datu Bendahara, Kadir Ansari sebagai Cik Awang, Edi Hagian sebagai Kolok, Hamrin Samad sebagai Datuk Tumenggung, Nawir Parenrengi sebagai Datuk bendahara. (*)

Komentar Pembaca