oleh

Refleksi 3 Tahun Pemerintahan Edy-Ijeck, Prodewa Sumut Gelar Dialog Publik

INSPIRATIFNEWS.COM, Medan | Pasca setelah berjalan selama 3 Tahun Edy-Ijeck memimpin Sumatera Utara (Sumut) menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah, dengan tagline besar Sumut Bermartabat.

Merupakan perjalanan panjang, sudah 3 tahun menduduki Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, banyak menuai kritikan dari sejumlah pihak, akibat dari belum signifikannya pembangunan yang dilakukan dan janji-janji kampanye yang belum juga terpenuhi.

Hal tersebut ditanggapi oleh Progressive Democracy Watch (Prodewa) Sumut, sehingga terinovasi perlunya menggelar forum-forum disksui, yang dilaksanakan untuk memberikan formulasi terbaik, dalam pembangunan 2 tahun terakhir tentunya, dengan banyak memberikan kritik dan evaluasi Kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur 3 tahun yang telah dilalui.

Diskusi tersebut dihadiri oleh Sugiat Santoso dan juga Dewi Budiati Teruna, yang merupakan Tim Pemenangan Edy-Ijeck di Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) tiga tahun yang lalu yang dimoderatori oleh Fahrul Rozi Panjaitan, selaku Sekjend Prodewa Sumut.

Dewi Budiati dalam paparannya menyampaikan, bahwa secara pribadi dan semangat Pak Edy dan Pak ijeck, sapaan akrab dari Wagubsu Musa Rajekshah, sangat serius untuk membangun dan memajukan Sumut ini.

“Perlu adanya orang-orang disekitarnya yang perlu memberi masukan kepada mereka. (Edy-Ijack-red)” ucap Dewi.

“Saya di sini ingin sampaikan bahwa, sosok Pak Edy dan Bang Ijeck, merupakan sosok yang sangat tulus dalam membangun Sumut yang kita cinta ini,” ucap Dewi pada acara diskusi yang dilaksanakan dengan tetap mentaati anjuran Pemerintah dengan mematuhi protokol kesehatan di Cafe Kopi Takar Jalan Setia Budi No 35 Medan, Minggu (05/08/2021).

“Nawaitu nya sangat mulia, untuk membangun Sumut yang bermartabat. Hanya saja, perlunya tim kecil di sekelilingnya, yang bisa menafsirkan pemikiran itu, yang dapat memberi masukan, kepada Pak Edy dalam menjalankan kinerjanya dalam upaya membangun Sumut,” pungkas Dewi.

Ketua Relawan Bersatu itu pun menambahkan, perlu adanya kritik-kritik dan masukan-masukan dari para anak-anak muda, untuk membangun Sumut.

“Kritik itu diperlukan dalam upaya kemajuan Daerah. Oleh karena itu, Anak-anak muda harus dapat terlibat aktif, dalam memberikan kritik dan saran, kepada pemimpin,” ujarnya.

“Makanya, saya sangat apresiasi dengan digelarnya forum seperti ini. Harapan saya, kalau bisa hasil dari kesimpulan pembicaraan kita tadi agar segera langsung disampaikan kepada Pak Edy,” kata Dewi.

“Masa Pandemi ini, banyak terkendala akan pembangunan, namun seharusnya di masa Pandemi ini, dimanfaatkan oleh Pak Edy untuk menunjukkan kinerjanya,” ucapnya.

Sementara itu, Sugiat Santoso menyampaikan bahwa Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah sudah onthetrack dalam proses pembangunan dan terus berupaya mewujudkan Sumut Bermartabat.

“Kita harus objektif dalam menilai ya, sebenarnya Pak Edy dan Bang Ijeck sudah onthetrack dalam melakukan pembangunan di Sumut ini,” ucap Sugiat.

“Bahkan, diawal-awal Pemerintahan beliau sudah melakukan gebrakan kebijakan. Salah satu contohnya adalah, dengan menaikkan gaji guru honorer 100 %, yang semulanya Rp. 40.000 per-jamnya, dinaikkan menjadi Rp.90.000 per-jamnya,” ungkpanya.

Menurutnya, hal tersebut adalah wujud kepedulian untuk mewujudkan Sumut Bermartabat. “Agar dapat bermanfaat, maka harus diangkat dulu martabat para guru,” pungkas Sugiat Santoso.

Pada kegiatan diskusi tersebut, para peserta juga banyak memberi pertanyaan. Seperti mengenai banyaknya jalan Provinsi yang rusak dan dalam hal ini, diduga Pemerintah tidak peduli untuk membangun infrastruktur.

“Saat ini masih banyak jalan yang statusnya jalan Provinsi masih semrawut. Tidak diperhatikan sama sekali oleh Pemerintah Provinsi,” ungkap Irham Sadani Rambe, Mahasiswa UIN-SU.

Menurutnya, infrastruktur yang baik adalah salah satu sarana untuk menunjang pembangunan kegiatan perekonomian masyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, di daerah-daerah,” ucapnya.

Sugiat Santoso menjawab, problematika itu kemungkinan bisa terjadi. Akan tetapi, Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut adalah orang yang bersih dan jujur, baik dalam hal pelaksanaan Proyek.

“Kita semua harus tau. Pak Edy dan Bang Ijeck itu ngak main proyek. Tidak seperti Kepala Daerah di tempat lain. Tapi problemnya, Kepala Dinas nya, tidak mengikuti keteladanan Edy-Ijeck,” sebutnya.

“Yang menjadi persoalannya, jadi Kepala Dinasnya yang main.Nah kedepan, tinggal lagi bagaimana mereka mampu mencari Kepala Dinas, yang bisa melakukan percepatan pembangunan di dua tahun, yang tersisa,” ucap Sugiat Santoso.

Ketika ditanya mengenai buruknya pola komunikasi Gubernur dengan masyarakat, Sugiat Santoso mengatakan, dengan banyaknya masalah komunikasi yang disoroti kepada Gubernur, itu menyebabkan Gubernur sekarang sudah banyak merubah gaya komunikasinya.

“Memang kita mengakui, banyak publik menyoroti masalah komunikasi Gubernur. Tapi, kita harus memahami itu, beliau sejak tamat SMA langsung masuk di AKABRI dan sampai pada saat beliau akan maju menjadi Gubernur yang juga masih sebagai seorang Perwira Tinggi di TNI. Oleh karena itu, kita harus bisa memahami itu, namun sekarang Bapak Gubernur sudah banyak berubah,” ucap mantan Ketua KNPI Sumut itu.

Senada dengan Sugiat Santoso, Dewi Budiati Teruna juga mengatakan hal yang sama terkait gaya Komunikasi Gubernur.

“Ya kita harus memaklumkan beliau, biasanya ketika beliau berbicara, semua pasukan yang dipimpin beliau, satu komando. Ketika menjadi Gubernur, tentu tidak seperti itu lagi, karena yang dipimpin beliau sudah masyarakat Sipil,” kata Dewi.

“Tapi sekarang sudah banyak berubah, pola komunikasi beliau semakin baik, tinggal bagaimana orang-orang di sekitar Gubernur berani menyampaikan kondisi yang sesuai dengan realita. Dan tidak hanya sekedar mencari muka,” ucap Dewi.

Di sesion penutup, salah satu peserta menyampaikan bahwa masih ada banyaknya sejumlah permasalahan terjadi. Seperti masih maraknya peredaran narkoba dan juga masalah penyakit masyarakat yaitu judi, yang diduga terkesan sengaja dibiarkan oleh aparat.

“Ini juga menjadi catatan penting bagi Gubernur dan Wakil Gubernur kedepannya,” pungkasnya.

(min/ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed